Bermain Gitar Untuk Keterampilan Pra Vokasional Pada Anak Tunanetra

  • Published on
    24-Oct-2015

  • View
    354

  • Download
    7

DESCRIPTION

Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Sri Widati, http://ejournal.unesa.ac.id/

Transcript

  • Widati & Saksono, Pelatihan Bermain Gitar

    57

    BERMAIN GITAR UNTUK KETERAMPILAN PRA VOKASIONAL PADA ANAK TUNANETRA

    Sri Widati & Deny Tri Saksono

    Abstract, The goals of this research increase pre vocational skill at blind children in SDLB-A YPAB Surabaya, add institute teaching material as ability of pre vocational skill for blind child and as future benefit and life of blind children in society.This research is pra experiment research which use research design is one group pre test and post test with technique analyze statistic non parametric with sign test ZH. This research use observation, interview, and test method in data collection.And the result of this research is obtained ZH value = 1,8 bigger than critical Z value 5% that is 1,64 so it refuses Ho, it can be concluded that give play guitar training can increase pre vocational at blind children in SDLB-A YPAB Surabaya.In this research, researcher give advice for parents to guide childs interest to special skill. By increasing the skill in non formal education (course); teachers should know through childs interest early and guide as a skill; and for blind children use their skill with play guitar continuously.

    Kata kunci: Bermain gitar, keterampilan pra vokasional dan tunanetra

    Pendidikan merupakan salah satu bentuk pelayanan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai perkembangan dan kemajuan zaman. Undang Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab IV pasal 5 ayat 1, Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, sedangkan ayat 2 dikemukakan bahwa Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

    Dengan demikian pendidikan tidak hanya untuk anak normal saja, tetapi juga untuk anak berkebutuhan khusus. Salah satu yang termasuk anak berkebutuhan khusus adalah anak tunanetra. Anak tunanetra mengalami gangguan pada indera penglihatannya, hal tersebut berdampak terhadap kehidupannya secara komplek, sehingga perkembangan intelegensi anak menjadi terhambat akibat dari ketunanetraannya. Padahal faktor penglihatan (visual) merupakan hal yang sangat penting dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari terutama yang berkaitan dengan indra penglihatan seperti pada anak normal lainnya.

    Email : widati_plb@yahoo.com & dani@yahoo.com.

  • JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1

    58

    Sebagai salah satu anggota masyarakat, anak tunanetra juga memiliki hak dan kewajiban untuk berperan aktif dalam lingkungan sosial, walaupun kecil peranannya mereka dapat diharapkan menyumbangkan tenaga atau pikiran untuk kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya sekalipun tidak selincah orang awas karena anak tunanetra merupakan bagian dari anggota masyarakat.

    Keikutsertaan anak tunanetra dalam kegiatan di masyarakat akan memudahkan bersosialisasi dengan lingkungan dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi untuk menyesuaikan diri di masyarakat.

    Diterimanya keadaan tunanetra di masyarakat, akan menghilangkan gangguan psikologi yang berupa rasa rendah diri, curiga pada orang lain dan mudah tersinggung, yang bisa menghambat perkembangan jiwanya.

    Dengan hilangnya penglihatan, anak tunanetra dalam memperoleh informasi menggantungkan pada indra lain yang masih berfungsi. Dengan demikian indra yang tersisa seperti indra peraba, pendengaran, penciuman dan pengecap. Menurut Irham Hosni (1996;113) dikatakan Peningkatan ketajaman indra sangat diperlukan oleh seseorang tunanetra karena untuk pengenalan lingkungan dia sangat tergantung dari ketajaman indra dalam menerima informasi dari sekitarnya.

    Untuk berperan aktif dan mampu menyumbang tenaga atau pekerjaan bagi anak diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus. Untuk itu diperlukan suatu keahlian khusussebagai bekal hidup dan kehidupan di tengah masyarakat.

    Bagi anak tunanetra indera peraba memegang peranan sangat penting disamping indra lainnya. Karena indra peraba anak tunanetra dapat mengenal dunia luar melalui tangan. Untuk mengembangkan keindraan anak tunanetra dapat dilakukan melalui berbagai macam latihan. Salah satu usaha untuk mengembangkan keinderaan anak tunanetra adalah melalui pelatihan khusus dan intensif .

    Gitar adalah alat musik petik berdawai senar. Gitar dapat menghasilkan melodi dan akor dalam jumlah dan variasi yang lebih banyak dibandingkan dengan alat musik lain (Asriadi, 2004:1).

    Bicara tentang keterampilan vokasional pada anak tunanetra, gitar merupakan salah satu alat musik yang relatif cukup mudah dapat dilakukan oleh anak tunanetra karena untuk memainkan alat musik gitar lebih diperlukan indra pendengaran dan perabaan.

    Dengan pelatihan bermain gitar dapat memberi bekal keterampilan pra vokasional dan bermanfaat bagi siswa untuk dapat hidup mandiri sesuai dengan kelainan yang disandang dan tingkat perkembangannya.

    Berdasarkan survey di SDLB-A YPAB Surabaya bulan Februari 2007, di lembaga tersebut pemberian keterampilan khusus (pra vokasional) belum diberikan secara kontinyu. Dengan demikian penulis berasumsi pemberian keterampilan yang mengarah kepada pembekalan keterampilan atau keahlian khusus dapat menambah wawasan dan kemampuan anak tunanetra untuk

  • Widati & Saksono, Pelatihan Bermain Gitar

    59

    mendapatkan kehidupan dan penghidupan di masyarakat. Diharapkan dengan latihan bermain gitar secara kontinyu dapat menjadi suatu keterampilan khusus bagi anak tunanetra dan nantinya dapat menjadi bekal hidup dan kehidupan di masyarakat. Dengan memiliki keahlian khusus bermain gitar nantinya bisa menjadi alternatif untuk mencari nafkah bagi anak tunanetra, misalnya dengan menjadi seorang pengamen, pengiring musik di suatu acara ataupun di kafe, guru musik privat, dan lain-lain.

    Sebagai warga masyarakat yang dianggap tidak normal, berkelainan atau menyimpang, maka anak berkebutuhan khusus termasuk tunanetra mempunyai beberapa permasalahan dalam aktivitas sehari-hari. Secara garis besar masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (a) Masalah keterampilan sosial; Penyandang tunanetra juga akan senantiasa menghadapi masalah dalam mobilitas sosial. Ini disebabkan karena setiap menghadapi lingkungan baru, mau tidak mau diperlukan bantuan orang lain untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai lingkungan tersebut. Dengan gambaran yang jelas mobilitasnya akan menjadi lancar; Penyandang tunanetra juga akan menghadapi masalah komunikasi sosial. Hal ini disebabkan karena manusia sepanjang hidupnya tidak akan lepas dari komunikasi sosial ini, sangat diperlukan peran lingkungan atau peran orang tua; Pengaruh dari keterbatasan mobilitas sosial dan komunikasi sosial adalah kemandirian sosial. Penyandang tunanetra tidak bisa sepenuhnya lepas dari orang lain dalam kehidupan sehari-hari , terutama hal-hal dalam kegiatan yang menuntut peran fungsi penglihatan. (b) Masalah pekerjaan dan karir; Anak tunanetra dalam hal pekerjaan sangatlah bermasalah. Jika tersedia pekerjaan, tingkat persaingan untuk mendapatkannya sangat tinggi, sehingga perasaan putus asa selalu menghantui dirinya. Kondisi ini diperburuk lagi dengan kenyataan bahwa masih banyak dunia kerja yang belum menerima tenaga tunanetra walaupun mereka mempunyai keterampilan untuk itu. Masalah yang dianggap penting adalah pilihan jurusan atau pengerjaan harus dilakukan dengan mantap. Hal ini untuk menghindari perubahan pilihan di kemudian hari. Bagaimanapun kalau pada akhir usia dewasa, seseorang muda mengalami perubahan pilihan karir, sebenarnya sudah termasuk terlambat. Sebab memasuki karir baru berarti memulai awal lagi. Karena itu stabilitas pekerjaan ini akan menjadi masalah tersendiri bagi seseorang pada masa dewasa ini. Bagi penyandang tunanetra yang harus bekerja dalam lingkungan normal, masalah penyesuaian diri dengan pekerjaan ini lebih sulit (Somantri,2006). Disini faktor lingkungan sangat menentukan, terutama sejauh mana tingkat penerimaan sosial dan kesediaan untuk bekerja sama dengan mereka yang mengalami tunanetra.

    Bagi para tunanetra, masalah yang dihadapi dalam bidang pendidikan meliputi (a) Masalah isi pendidikan; bagi penyandang tunanetra, isi pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus sesuai dengan perkembangannya. Disamping pendidikan yang bersifat umum, pendidikan yang spesifik perlu diperhatikan seperti pendidikan karier, pendidikan seks, pendidikan keluarga, dan sebagainya. (b) Masalah lokasi pendidikan, pendidikan bagi anak

  • JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1

    60

    tunanetra semestinya menganut system normalisasi pendidikan yaitu mereka belajar di sekolah- sekolah seperti orang normal belajar. Disini, banyak sekolah-sekolah yang dekat dengan tempat tinggal anak tunanetra yang tidak mau menerima penyandang tunanetra, sehingga mereka harus sekolah di tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka. (c) Masalah sistem pengolahan proses belajar mengajar, sistem pengolahan proses belajar mengajar melalui pendidikan terpadu, memerlukan modifikasi dan kurikulum yang ada, sehingga dapat memenuhi kebutuhan individual penyandang tunanetra sesuai dengan karakteristik masing-masing peserta didik. (d) Masalah sarana dan prasarana, sarana dan prasarana pendidikan juga harus disesuaikan dengan keadaan dan karakteristik anak didik jika sekolah menyelenggarakan program pendidikan terpadu. Sekolah-sekolah normal/formal masih banyak yang belum menyediakan sarana khusus bagi penyandang cacat yang kemungkinan belajar di sekolah tersebut. Kondisi seperti ini berarti kurang mendukung kelancaran program pendidikan terpadu, khususnya bagi penyandang tunanetra. (e) Masalah evaluasi pendidikan, karena sistem pendidikan yang dikembangkan di sekolah umum adalah sistem klasikal, cara demikian berarti tidak menunjang sistem klasikal. Cara demikian berarti tidak akan menunjang system pembelajaran yang menggunakan pendekatan individual (Astatiti,1995).

    Menurut Astatiti (1996:154) Pra vokasional adalah kegiatan yang dilakukan sebelum individu melakukan pekerjaan tertentu. Yang penting pada tahap ini adalah bagaimana individu memelihara alat, menggunakan alat, mengenal pekerjaannya, dan sebagainya. Keterampilan pra vokasional merupakan keterampilan yang berhubungan dengan suatu keahlian yang dapat mendatangkan imbalan atau penghasilan (Rochyadi, 2005:45). Adapun tujuan pelatihan keterampilan pra vokasional: (a) dapat menyumbangkan keterampilan dasar menjadi keterampilan kejuruan, (b) dapat menumbuhkan minat dan apresiasi terhadap semua keterampilan atau pekerjaan yang menggunakan tangan, disamping itu pendidikan keterampilan merupakan salah satu program penunjang dalam bidang orientasi dan rehabilitas di SLB-A, (c) dapat menjadi dasar pengembangan bakat dan kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri, (d) dapat menjadi sarana untuk mencari nafkah setelah siswa lulus dari sekolah dan sebagai bekal hidup dan kehidupan di masyarakat.

    Pelajaran keterampilan sangat dibutuhkan oleh anak tunanetra. Hal yang sangat penting bagi tunanetra adalah trampil. Keterampilan yang dapat diberikan untuk anak tunanetra yaitu massage atau pijat, komputer dan bermain musik seperti piano, drum maupun gitar dan sebagainya. Jenis-jenis keterampilan ini yang masih memungkinkan dapat diberikan kepada anak tunanetra karena keterampilan tersebut dapat dilakukan oleh anak tunanetra tanpa harus mengandalkan fungsi indra penglihatan.Kenyataan di lapangan, banyak dijumpai seorang tunanetra memiliki profesi sebagai tukang pijat (massager) atau pemusik yang dapat digunakan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan di masyarakat. Untuk mempersiapkan anak tunanetra sebagai tenaga kerja yang siap pakai,

  • Widati & Saksono, Pelatihan Bermain Gitar

    61

    hendaknya diberikan keterampilan khusus sedini mungkin. Dengan keterampilan yang diperoleh sejak dini dapat digunakan oleh anak tunanetra sebagai bekal hidup dan kehidupan di masyarakat dan untuk mencari nafkah di masa yang akan datang.

    Anak tunanetra mempunyai keterbatasan menerima rangsang atau informasi melalui indra penglihatannya. Penerimaan rangsang hanya dapat dilakukan melalui pemanfaatan indra-indra lain di luar indra penglihatannya. Karena kebutuhan anak untuk tetap mengenal dunia sekitarnya, maka indra pendengaran dan perabaan merupakan saluran utama penerima informasi yang paling dominan bagi anak tunanetra. Dengan indra pendengaran, anak tunanetra dapat menerima informasi dari luar yang berupa suara. Berdasarkan suara, anak tunanetra mampu mendeteksi dan menggambarkan tentang arah, sumber, jarak tentang suatu obyek informasi, ukuran serta kualitas ruangan.

    Sedangkan dengan indra perabaan, anak tunanetra dapat mengenal dunia luar melalui tangan. Tunanetra dapat mengenal bentuk, posisi, ukuran, dan perbedaan permukaan melalui perabaan.Dengan dimilikinya indra pendengaran maupun perabaan yang masih normal dan selama koordinasi fisik/biologis tidak mengalami gangguan, anak tunanetra dapat melakukan ketrampilan-ketrampilan khusus, diantaranya bermain gitar.Melalui bermain gitar yang dilakukan secara rutin dan kontinyu serta terarah, maka indra pendengaran dan perabaan yang mereka miliki dapat berfungsi lebih dari orang awas yaitu lebih peka karena mereka dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan. Konsentrasi ini terbentuk karena matanya tidak dapat melihat, maka seluruh perhatiannya dapat berpusat pada apa yang sedang dipelajarinya karena perhatiannya tidak terpecah kemana-kemana.Dalam memainkan gitar anak tunanetra harus benar-benar terampil. Dengan mememiliki keterampilan bermain gitar, anak tunanetra mampu bersaing dengan masyarakat modern dalam mencari nafkah dan dapat menjadi lebih mandiri. Keterampilan bermain gitar tersebut dapat digunakan sebagai bekal hidup dan kehidupan di masyarakat. Banyak kita jumpai seorang tunanetra bisa hidup mandiri di masyarakat. Mereka dapat menghasilkan pendapatan sendiri meskipun indra penglihatannya tidak berfungsi. Ada yang menjadi penyanyi, tukang pijat, pemain musik bahkan bekerja dikantor sebagai operator telpon.Begitu juga dengan bermain gitar. Dengan adanya keterampilan bermain gitar, seorang tunanetra bisa memperoleh nafkah dari hasil bermain gitar. Mereka bisa menjadi pengamnen, pemain musik atau pengiring lagu di sebuah kafe maupun suatu acara. Dan jika sudah terampil dalam memainkan gitar, maka bisa digunakan sebagai mata pencaharian untuk menambah penghasilan yaitu dengan membuka atau memberi kursus keterampilan bermain gitar.

    Berdasarkan latar belakang masalah ini, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah pemberian latihan dasar-dasar bermain gitar dapat meningkatkan keterampilan pra vokasional pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya?; dengan tujuan pengkajian (1) Untuk meningkatkan keterampilan pra vokasional pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya,

  • JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1

    62

    (2) Untuk menambah materi ajar pada lembaga sebagai kemampuan keterampilan pra vokasional bagi anak tunanetra sebagai bekal hidup dan kehidupan anak tunanetra di masyarakat, (3) membuktikan apakah pemberian latihan dasar-dasar bermain gitar dapat meningkatkan keterampilan pra vokasional pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya. Sedangkan manfaat yang didapatkan adalah dapat melatih kemandirian anak tunanetra sejak dini melalui penanaman keterampilan gitar pada anak.

    METODE Penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen dengan desain one group

    pre test and post test design. Pada penelitian ini dilakukan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding. Desain penelitian ini menggunakan pola O1 x O2 dimana treatment yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah eksperimen. Treatment sebelum eksperimen O1 disebut pre-test dan treatment setelah eksperimen O2 disebut post test.. Adapun sampel penelitiannya adalah anak tunanetra siswa kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya sebanyak 5 anak. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) Metode observasi, yaitu digunakan sebagai metode pendukung dalam memperoleh informasi dan data. Tujuan menggunakan metode observasi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data aktual interaksi interpersonal pada siswa tunanetra serta minat dalam keterampilan bermain gitar, (2) Metode wawancara, digunakan untuk mencari data tentang kondisi riil keterampilan khusus di SDLB-A YPAB Surabaya dan data tentang minat siswa tunanetra dalam keterampilan bermain gitar. (3) Metode test digunakan untuk emperoleh data tentang pengetahuan anak yang berhubungan dengan gitar. Data tersebut diperoleh dari hasil tes tulis sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberi perlakuan. Selain itu metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan anak dalam memainkan gitar. Data tersebut diperoleh dari hasil tes perbuatan sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberi perlakuan.

    Dalam penelitian ini menggunakan analisis data statistic non parametric karena datanya kuantitatif yaitu dalam bentuk bilangan. Sedangkan subyek penelitiannya kecil, kurang dari 10 orang. Hal ini diperkuat dengan pendapat Sutrisno Hadi (1993:332) bahwa suatu sampel yang n-nya lebih kecil dari 30, kita sebut sampel kecil. Maka rumus yang digunakan untuk menganalisis adalah rumus statistik non parametrik jenis uji tanda (Sign Test ZH) (Saleh,1996).

    HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di SDLB-A YPAB Surabaya dapat

    diketahui bahwa di lembaga tersebut awalnya sudah ada pemberian keterampilan pra vokasional, salah satunya bermain alat musik piano, keyboard, maupun drum.Selama ini keterampilan bermain musik yang sudah diberikan di kelas 4

  • Widati & Saksono, Pelatihan Bermain Gitar

    63

    SDLB-A YPAB Surabaya adalah piano, keyboard dan drum. Sedangkan pelatihan keterampilan bermain gitar belum pernah diberikan di lembaga tersebut. Pertama kali dikenalkan alat musik gitar, siswa sangat senang meskipun hanya asal memetik senar gitar saja. Mereka senang bisa mendengarkan bunyi dari senar gitar yang mereka petik. Tetapi siswa tunanetra kelas 4 di SDLB- A YPAB Surabaya hanya bisa memetik senar gitar saja tetapi belum bisa memainkan akor dasar secara lengkap.Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa siswa tunanetra kelas 4 di SDLB-A YPAB Surabaya sangat menyukai keterampilan bermain musik. Dengan ditambahkannya pelatihan bermain gitar, siswa tunanetra kelas 4 di SDLB-A YPAB Surabaya menunjukkan keantusiiasan. Mereka sangat berminat untuk dapat bermain gitar. Pelatihan bermain gitar diberikan dengan kondisi siswa yang bermacam-macam dari tingkat ketajaman penglihatan ataupun dalam segi kemampuan menerima materi yang disampaikan.Dalam pelatihan, pelatih memberikan teori-teori yang berhubungan dengan gitar dan mengajarkan akor dasar gitar. Pelatih memegang tangan masing-masing siswa tunanetra untuk menunjukkan posisi tangan pada gitar untuk masing-masing akor.

    Dari hasil wawancara dengan siswa kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya dapat diketahui bahwa anak sudah mendapat keterampilan-keterampilan dasar pada kelas kecil (kelas 1, 2 dan 3) seperti menyanyi, melipat, dan lain-lain.Pada kelas besar yaitu mulai kelas 4, anak sudah menerima pelatihan-pelatihan yang lain seperti komputer dan bermain alat musik seperti piano, keyboard maupun drum. Pelatihan alat musik yang belum diberikan saat ini adalah bermain gitar. Sebenarnya anak ingin memainkan alat musik selain piano, keyboard maupun drum, yaitu ingin bermain gitar. Siswa tunanetra kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya sangat berminat bermain gitar. Semua sudah bisa memetik senar gitar tanpa menggunakan akor dasar. Mereka sangat ingin bermain gitar dengan menggunakan akor dasar dan mereka mempunyai keinginan suatu saat nanti bisa menyanyikan lagu dengan sebuah gitar. Berikut hasil wawancara dengan siswa kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya: (1) AA adalah siswa kelas 4 SDLB- A YPAB Surabaya yang tidak mempunyai sisa penglihatan sama sekali (tunanetra). Berdasarkan hasil wawancara, pada awalnya AA memang sudah menyukai keterampilan bermain musik. Dengan ditambahkannya pelatihan bermain musik yang baru, yaitu bermain gitar AA menunjukkan semangat dan keinginan untuk dapat bermain gitar. Selama ini minat AA terhadap bermain gitar mendapat kendala dengan tidak adanya seorang pelatih. (2) AW adalah siswa kelas 4 SDLB- A YPAB Surabaya yang mempunyai sedikit sisa penglihatan (low vision). Berdasarkan hasil wawancara, pada awalnya AW memang sudah menyukai keterampilan memainkan alat musik drum. Dengan ditambahkannya pelatihan bermain musik yang baru, yaitu bermain gitar AW menunjukkan semangat dan keinginan untuk dapat bermain gitar. Selama ini minat AW terhadap bermain gitar mendapat kendala karena belum dimilikinya sebuah gitar. (3) FA, sama seperti AA, FA adalah siswa kelas 4 SDLB- A YPAB Surabaya yang tidak mempunyai sisa penglihatan sama sekali (tunanetra). Berdasarkan

  • JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1

    64

    hasil wawancara, pada awalnya FA memang sudah menyukai keterampilan bermain alat musik keyboard. Dengan ditambahkannya pelatihan bermain musik yang baru, yaitu bermain gitar FA menunjukkan semangat dan keinginan untuk dapat bermain gitar. Selama ini minat FA terhadap bermain gitar mendapat kendala karena tidak adanya seseorang yang mengajarinya bermain gitar. (4) YD adalah siswa kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya yang mempunyai sedikit sisa penglihatan (low vision). Berdasarkan hasil wawancara, pada awalnya YD memang sudah menyukai keterampilan bermain piano. Dengan ditambahkannya pelatihan bermain musik yang baru, yaitu bermain gitar YD menunjukkan keantusiasan untuk dapat bermain gitar karena selama ini YD tidak dapat bermain akor dasar gitar. (6) SI adalah siswa kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya yang mempunyai sedikit sisa penglihatan (low vision). Berdasarkan hasil wawancara, pada awalnya SI menyukai keterampilan menyanyi.Dengan ditambahkannya pelatihan bermain musik yang baru, yaitu bermain gitar SI menunjukkan ketertarikan untuk dapat bermain gitar karena selama ini SI tidak bisa bermain akor dasar gitar. SI berharap dengan latihan bermain gitar bisa menyanyi sambil mengiringi gitar sendiri.

    Hasil test pengetahuan dan bermain akor dasar gitar. Adapun hasil pre test dan post test seperti pada tabel 1 berikut:

    Tabel: 1 Rekapitulasi Nilai Pre Test dan Post Test Kelas 4 SDLB-A YPAB Surabaya

    No Sampel Nilai Pre Test Nilai Post Test Penge tahuan

    Main Gitar

    A

    Main Gitar

    B

    Rata-rata

    Penge tahuan

    Main Gitar

    A

    Main Gitar

    B

    Rata-rata

    Peru bahan

    1 AA 15 10 11 12.0 18 20 19 19.0 + 2 AW 14 12 10 12.0 20 20 22 20.7 + 3 FA 12 10 10 10.7 19 22 17 19.3 + 4 YD 12 9 8 9.7 10 18 19 19.0 + 5 SI 13 9 8 10.0 20 17 20 19.0 +

    Analisis dengan menggunakan uji tanda (sign test) untuk mengadakan tentang nilai kritis suatu distribusi yang diambil secara terus menerus terhadap subyek penelitian pada pola uji pre test dan post test.

    Prosedur analisis: X -

    ZH =

    Adapun pengolahan data sebagai berikut: n = 5 = 5 . p

  • Widati & Saksono, Pelatihan Bermain Gitar

    65

    = 5 . 0,5 = 2,5 = npq

    = (5) (0,5) (0,5) = 1,25

    = 1,11

    X - ZH

    =

    4,5 - 2,51,11

    = 1,8

    =

    Nilai kritis 5 % (untuk pengujian satu sisi) Z = 1,64. Suatu kenyataan bahwa nilai Z = 1,8, yang diperoleh dalam hitungan adalah Z lebih besar daripada nilai kritis Z 5 % yaitu 1,64. Hal ini berarti ada peningkatan yang signifikan penggunaan pelatihan bermain gitar dapat meningkatkan keterampilan pra vokasional di SDLB-A YPAB Surabaya.

    Menurut Somantri (2006:45) Pendidikan vokasional pada tingkat sekolah dasar masih bersifat pra vokasional seperti menempel, menggunting, mewarnai, dll. Sementara kecakapan vokasional pada jenjang lebih tinggi (SMLB) akan lebih diarahkan kepada suatu keterampilan yang bersifat fungsional seperti menjadi cleaning service, pelayan toko, mengampelas, kerajinan tangan seperti membuat sandal, membuat tempat pensil, merajut, dll.

    Di SDLB-A YPAB Surabaya latihan bermain gitar sebagai keterampilan khusus diajarkan sejak dini untuk meningkatkan kemampuan pra vokasional sehingga dapat menjadi bekal untuk jenjang yang lebih tinggi. Dalam pemberian latihan bermain gitar pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya mengalami peningkatan yang bagus pada pertemuan terakhir karena anak diberikan pelatihan secara berulang-ulang.

    Anak tunanetra SDLB-A YPAB Surabaya lebih menyukai keterampilan khusus memainkan alat-alat musik termasuk bermain gitar karena mereka dapat menggunakan indra selain penglihatan yaitu indra pendengaran maupun perabaan. Pada anak tunanetra, indra pendengaran maupun perabaan lebih peka karena mereka dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan karena perhatiannnya tidak terpecah kemana-mana.

    Anak mulai mengenal dan senang dengan alat musik gitar. Pada awalnya anak mempunyai keinginan bermain gitar tetapi mereka mendapat kendala-

  • JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1

    66

    kendala diantaranya belum adanya pelatih yang memberi pelatihan gitar. Selain itu belum dimilikinya alat musik gitar oleh anak tunanetra SDLB-A YPAB Surabaya menjadi salah satu kendala juga dalam bermain gitar.

    Pemberian pelatihan bermain gitar di SDLB-A YPAB Surabaya dimulai dengan penjelasan hal-hal yang berhubungan dengan gitar seperti pengertian, bagian-bagian gitar, dan lain-lain. Kemudian diberikan pelatihan pelemasan tangan yaitu senam jari. Senam jari dengan menggunakan alat gitar yang dimulai dari atas ke bawah, dengan cara jari-jari mengikuti flet dan dengan nada solmisasi pada senar gitar. Setelah dilakukan senam jari tersebut, anak tunanetra SDLB-A YPAB Surabaya diberi pelatihan dengan meletakkan jari-jari sesuai akor dasar baik akor mayor maupun akor minor, kemudian membunyikannya. Dari pelatihan bermain gitar ini, anak tunanetra SDLB-A YPAB Surabaya mengerti akor dasar gitar dan mulai memainkan akor dasar mayor maupun minor. Jari-jari anak mulai lemas dalam memainkan akor dasar dan dapat membunyikannya. Dengan pelatihan gitar yang diberikan di SDLB-A YPAB Surabaya, anak tunanetra bisa mendapat keterampilan vokasional sejak dini sehingga dengan adanya pelatihan bermain gitar ini dapat meningkatkan keterampilan pra vokasional di SDLB-A YPAB Surabaya.

    SIMPULAN DAN SARAN Simpulan yang diberikan dari keseluruhan hasil penelitian ini bahwa

    pemberian latihan dasar-dasar bermain gitar dapat meningkatkan keterampilan pra vokasional pada anak tunanetra di SDLB-A YPAB Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan beberapa saran yang berkaitan dengan penelitian, (a) Orang tua hendaknya membiasakan anak untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, memasak, merenda, origami, bermain gitar, piano, melukis, dan lain-lain. Serta orang tua hendaknya ikut andil dengan mengarahkan minat anak terhadap suatu keterampilan khusus dengan meningkatkan keterampilan tersebut malalui pendidikan di luar sekolah (kursus); (b) Bagi sekolah hendaknya memainkan gitar dapat dimasukkan sebagai salah satu pilihan dalam mata pelajaran bidang studi keterampilan atau kertakes. Keterampilan khusus salah satunya bermain gitar hendaknya diberikan sejak dini pada siswa tunanetra SD kelas besar (kelas 4, 5 maupun 6) sehingga untuk jenjang berikutnya siswa yang memiliki keterampilan khusus bisa lebih terampil. (c) Bagi anak hendaknya melakukan keterampilan secara serius dengan bermain gitar secara tekun dan kontinyu sebagai bekal untuk meningkatkan keterampilan pra vokasional.

  • Widati & Saksono, Pelatihan Bermain Gitar

    67

    DAFTAR ACUAN

    Asriadi, Derry. 2004. Kiat Termudah Belajar Bermain Gitar. Jakarta: PT Kawan Pustaka.

    Asriadi, Derry. 2004. Panduan Mengiringi Lagu dengan Gitar. Jakarta: PT Kawan Pustaka.

    Astati. 1995. Terapi Okupasi, Bermain dan Musik untuk Anak Tunagrahita. Jakarta: Depdikbud.

    Astati. 1996. Pendidikan dan Pembinaan Karier Penyandang Tunagrahita Dewasa. Bandung: Depdikbud.

    Hadi, S. 1993. Statistik. Yogyakarta: Andi Offset. Hosni, Irham. 1996. Buku Ajar Orientasi dan Mobilitas. Jakarta: Depdikbud Saleh, S. 1996. Statistik Nonparametrik. Yogyakarta: BPFE. Somantri, Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika

    Aditama. Somantri, Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.

Recommended

View more >