HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN ?· dipahami sejak konsepsi hingga dewasa. ... Usia Pra sekolah…

  • Published on
    09-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Transcript

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN PRAKTEKPENGGUNAAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR DI PAUD

ANGGREK KABUPATEN PATI

Alis Setyaningsih, Rose Nurhidhariani, Arista Adityasari Putri

1,2,3STIKES Karya Husada Semarang

Email: alice.manyun@gmail.com, Rose.stikes@yahoo.co.id, aristaputri@gmail.com.

ABSTRACT

Background: Knowledge and maternal behavior in the use of educational toys is very influential to the development of gross motor skills of children. Purpose: To determine the correlation between maternal knowledge and behavior with the use of educational toys children's gross motor development in early childhood Orchid Pati. Methods: This research is a quantitative research design using the analytic correlation with cross-sectional method using proportionate sampling with a sample of 50 respondents. The analysis in this study using the chi square. Results: The results showed the level of maternal knowledge about educational toys by 22 respondents (44%). The behavior of the use of educational toys on the respondents were 29 respondents (58%). Gross motor development at the most normal child by 23 respondents (46%). Chi square test knowledge obtained a value of 8.377 with p value = 0.015 (p

1

PENDAHULUAN Masa balita merupakan periode penting da-lam proses tumbuh kembang seorang anak, sebab pada masa ini terjadi perkermbangan kemampuan berbahasa, berkreatifitas, ke-sadaran sosial, emosional yang merupakan landasan bagi perkembangan anak selan-jutnya (Effiana, 2009, hlm.2). Torrance (1981, dalam Asori, 2007) mengatakan bah-wa setiap anak mempunyai bakat kreatif ya-ng dapat dikembangkan dan karena itu per-lu dipupuk sejak dini. Bila bakal kreatif anak tidak di pupuk maka bakat tersebut tidak a-kan berkembang, bahkan menjadi bakat yang terpendam yang tidak dapat diwu-judkan. Masih banyak anak balita yang dite-mukan pada masa tumbuh kembangnya mengalami keterlambatan yang dapat di-sebabkan oleh kurangnya pemenuhan ke-butuhan pada diri anak, termasuk di da-lamnya adalah kebutuhan bermain. Penda-pat Dui (2008) Banyak orang tua yang belum tahu tentang tumbuh kembang anak. hal ini yang berkaitan dengan tumbuh kem-bang anak hanya diketahui oleh tenaga ke-sehatan. Seharusnya, orang tua bisa me-mantau atau mendeteksi secara dini apakah anak mengalami gangguan atau keterlam-batan dalam perkembangannya ataukah ti-dak (Sujono,2012, hlm.133). Motorik dapat didefinisikan sebagai sua-tu peristiwa laten yang meliputi keseluruhan proses proses pengendalian dan pengatu-ran fungsi-fungsi organ tubuh, baik secara fisiologis maupun secara psikis yang me-nyebabkan terjadinya suatu gerakan (Tjateri, 2004, hlm.1). Peningkatan ketram-pilan motorik khususnya motorik kasar ter-jadi sejalan dengan meningkatnya kemam-puan otot otot dan tubuh. Bagi anak usia dini kegiatan kegiatan motorik kasar bu-kanlah kegian yang menyenangkan, akan tetapi kegiatan tersebut bukan kegiatan yang mudah, mengingat anak usia pra se-kolah memiliki daya konsentrasi yang pen-dek (Hartini, 2007, hlm.15). Bermain merupakan suatu kreativitas di mana anak dapat melakukan atau mem-praktekan ketrampilan, memberikan ekspre-si terhadap pemikiran dan menjadi kreatif.

Sebagai suatu aktifitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan ketrampilan maka seharusnya diperlukan suatu bimbi-ngan, mengingat bermain bagi anak meru-pakan suatu kebutuhan bagi dirinya. Seba-gai kebutuhan, sebaiknya aktivitas bermain juga perlu diperhatikan secara cermat, bu-kan hanya dijadikan sarana untuk mengisi kesibukan atau mengisi waktu luang (Aziz, 2008, hlm.35). Alat permainan pada anak hendaknya di sesuaikan dengan usianya dan tahap perkembangan anak. Memberi-kan kebebasan bermain pada anak, maka orang tua dapat mengetahui suasana hati anak (Rekawati, 2005, hlm.73). Masalah tumbuh kembang anak me-rupakan masalah yang perlu diketahui atau dipahami sejak konsepsi hingga dewasa. Usia anak menurut WHO (World Health Organization) sampai usia 18 tahun sedang menurut Undang - Undang Kesejahteraan Anak RI No. 4 tahun 1979 sampai usia 21 tahun sebelum menikah. Beberapa masalah tumbuh kembang anak yang bisa dijadikan acuan pendekatan diantaranya 10% anak akan mencapai kemampuan pada usia dini, 50% anak akan mencapai kemampuan kemudian, 75% anak akan mencapai ke-mampuan lebih kemudian, 90% anak sudah dapat mencapai kemampuan pada batas usia paling lambat masih dalam batas nor-mal, dan 10% anak dimasukkan dalam ka-tegori terlambat apabila belum bisa men-capai kemampuanya. Tumbuh kembang anak yang pernah menggunakan alat per-mainan edukatif mempunyai perbedaan da-lam pemberian stimulasi, anak yang pernah menggunakan alat permainan anak menda-patkan stimulasi yang lebih, dibandingkan anak yang tidak menggunakan permainan edukatif (Hutabarat, 2007, hlm.83). Hermawati (2012) menerangkan tentang pengetahuan ibu yang mempunyai anak Usia Pra sekolah terkait dengan Alat Per-mainan Edukatif di Desa Jombor Ceper Kla-ten. Hasil yang didapatkan bahwa penge-tahuan ibu dari 52 ibu yang menjadi respon-den, pengetahuan ibu baik sebanyak 43 responden (82,69%), sedangkan penge-tahuan ibu cukup sebanyak 9 responden (17,31%).

2

Pakar Anak Seto Mulyadi mengatakan bahwa 85 % anak anak pra sekolah di Ja-karta mengalami perilaku emosi yang tidak stabil. Anak anak pra sekolah sering me-nunjukkan perilaku marah secara tiba tiba, agresif yang berlebihan dan sulit untuk dia-tur. Berdasarkan pengamatanya, perilaku ini disebabkan oleh faktor lingkungan sekolah dan pola asuh orang tua (Mulyadi, 2007, hlm. 9). Pendapat Dui (2008) yang menyatakan ada perbedaan anak dari segi psikologis yang sudah masuk Play Group dan anak yang tidak masuk Play Group. Mempunyai per-caya diri yang tinggi, tidak canggung di ling-kungan asing di luar keluarganya, dan mempunyai kemampuan motorik. Ketang-kasan yang lebih baik dibandingkan anak lain yang tidak masuk Play Group. Namun sampai saat ini akses anak usia dini ter-hadap layanan pendidikan dan perawatan melalui PAUD masih sangat terbatas dan tidak merata. Sekitar 28,2 juta anak usia 0 -6 tahun, baru 7,2 juta (25,3%) yang mem-peroleh layanan PAUD. Sementara itu, me-nurut data Balitbang Depdiknas tahun 2009, untuk anak usia 5 6 tahun yang jumlahnya sekitar 8,14 juta anak, baru sekitar 2,63 juta anak (atau sekitar 32,36 %) yang mem-peroleh layanan pendidikan di TK (Hutabarat, 2007, hlm.83).

Peneliti telah melakukan studi penelitian di PAUD Anggrek Sundoluhur Kabupaten Pati. Hasil survei melalui observasi didapatkan data 2 anak dari 10 anak berusia 3 4 tahun memiliki perkembangan motorik yang kurang baik. Hal itu terlihat dari aktifitas ke-mampuan anak dalam berinteraksi saat anak bermain melempar bola dan menendang bola. Terdapat 1 anak yang belum bisa me-nendang bola dengan lurus, ada juga 1 anak yang tidak bisa melompat jauh. Hasil wawancara pada Ibu didapatkan 2 orang ibu yang mengatakan tidak mengetahui fu-ngsi alat permainan edukatif yang telah di-sediakan di sekolah. Beberapa alat per-mainan edukatif yang ada di sekolah ter-sebut, antara lain balokbalok kecil, bola, lompat tali, dan prosotan. Terdapat 1 ibu juga mengatakan belum mengetahui alat permainan yang paling tepat untuk di beri-kan anak usia 3 4 tahun. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan tingkat pengetahuan ibu dan perilaku peng-gunaan alat permainan edukatif dengan perkembangan motorik kasar anak usia pra sekolah di PAUD Anggrek Kabupaten Pati.

METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2014 yang dilakukan di PAUD Anggrek Kabupaten Pati. Adapun hipotesis dari pe-nelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang alat perma-inan edukatif dengan perkembangan mo-torik kasar. Ada hubungan antara perilaku penggunaan alat permainan edukatif de-ngan perkembangan motorik kasar. Peneli-tian ini merupakan penelitian kuantitatif de-ngan jenis penelitian korelasi. Desain pene-litian yang digunakan ialah cross sectional. Analisis univariat pada penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang alat per-mainan edukatif, perilaku penggunaan alat permainan edukatif dan perkembangan mo-torik kasar anak usia pra sekolah. Sedang-kan analisis bivariat pada penelitian ini yaitu

Hubungan antara pengetahuan ibu tentang alat permainan edukatif dengan perkem-bangan motorik kasar. Hubungan antara pe-rilaku penggunaan alat permainan edukatif dengan perkembangan motorik kasar di PAUD Anggrek Kabupaten Pati. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian data primer yang diperoleh dari responden atau sampel yang berjumlah 50 orang. Responden berasal dari anak yang belajar di PAUD Anggrek, ibu yang bersedia menjadi responden, ibu yang bisa membaca dan menulis, ibu yang mem-punyai anak usia 3 4 tahun, ibu yang ting-gal dengan suaminya, dan ibu yang tidak bekerja. Pengambilan sampel berda-sarkan metode purpotionate sampling.

3

1. Analisis Univariat a. Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Pe-

ngetahuan Ibu tentang Alat Per-mainan Edukatif di PAUD Anggrek Kabupaten Pati Tahun 2014.

Pengetahuan Jumlah Persentase

Kurang 13 26,0

Cukup 15 30,0

Baik 22 44,0

Total 50 100,0

b. Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi

Perilaku Penggunaan Alat Permainan Edukatif di PAUD Anggrek Kabupaten Pati

c. Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Per-kembangan Motorik Kasar Anak Usia Pra Sekolah di PAUD Anggrek Kabupaten Pati

Perkembangan Motorik Kasar

Jumlah Persentase

Unstable 12 24,0

Suspect 15 30,0

Normal 23 46,0

Total 50 100,0

2. ANALISIS BIVARIAT a. Tabel 4.4. Hubungan antara Pe-

ngetahuan Ibu tentang Alat Per-mainan Edukatif dengan Perem-bangan Motorik Kasar Anak Usia Pra Sekolah.

Pengetahuan Ibu tentang APE

Perkembangan Motorik Kasar Anak Total

Unstable Suspect Normal

N % N % N % N %

Baik 1 4,5 9 40,9 12 54,5 22 100,0

Kurang/Cukup 11 39,3 6 21,4 11 39,3 28 100,0

Total 12 24,0 15 30,0 23 46,0 50 100,0

X2 = 8,377 p = 0,015

b. Tabel 4.5. Hubungan antara Perilaku

Penggunaan Alat Permainan Edukatif dengan Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia Pra Sekolah.

Perilaku Penggunaan APE

Perkembangan Motorik Kasar Anak Total

Unstable Suspect Normal

N % N % N % N %

Tidak Baik

9 42,9 6 28,6 6 28,6 21 100,0

Baik 3 10,3 9 31,0 17

58,6 29 100,0

Total 12 24,0 15 30,0 23 46,0 50 100,0

X2 = 7,780 p = 0,020

B. PEMBAHASAN

1. Analisis Univariat a. Pengetahuan Ibu Tentang Alat

Permainan Edukatif Hasil penelitian menunjukkan mayori-tas responden ibu memiliki pengeta-huan yang baik tentang alat perma-inan edukatif yaitu sebanyak 22 res-ponden (44%). Hasil ini berarti bahwa sebagian besar ibu memahami de-ngan baik mengenai sarana atau alat bermain anak yang mengandung un-sur edukatif dan dapat mengembang-

Perilaku Jumlah Persentase

Tidak Baik 21 42,0

Baik 29 58,0

Total 50 100,0

4

kan potensi anak. Pengetahuan yang dimiliki oleh ibu dapat mempengaruhi praktik ibu dalam melatih tumbuh kembang anak itu sendiri. Menurut Notoatmodjo (2006), pengetahuan sa-ngat menentukan seseorang dalam berperilaku. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih lang-geng. Pengetahuan yang baik tentang alat permainan edukatif yang dimiliki ibu menjadi faktor yang memudahkan atau mendukung terhadap terwujud-nya sikap dan tindakan yang baik da-lam pengasuhan dan perawatan anak, sehingga dapat mempengaruhi tum-buh kembang anak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hermawati, Sumantri dan Yuliani (2012) mengenai hubungan pengetahuan ibu tentang alat per-mainan edukatif dengan perkemba-ngan anak usia prasekolah yang me-liputi perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa dan personal sosial di Desa Jombor Ceper Klaten, yang menyimpulkan bahwa mayoritas pengetahuan ibu yang mempunyai anak usia pra sekolah tentang alat permainan edukatif di Desa Jombor Ceper Klaten adalah baik sebanyak 43 ibu (82,69%). Berdasarkan hasil observasi yang peneliti dapatkan dari tanggapan res-ponden (ibu) bahwa APE merupakan segala sesuatu yang dapat dipergu-nakan sebagai sarana atau peralatan untuk bermain yang mengandung nilai pendidikan edukatif dan dapat me-rangsang otak pengembangan selu-ruh aspek kemampuan (potensi) ja-rak. Alat permainan edukatif difung-sikan untuk mengembangkan berba-gai aspek perkembangan anak, ter-masuk perkembangan motorik kasar anak. Untuk anak usia 3 - 4 tahun, peng-gunaan alat permainan edukatif ber-manfaat untuk mengembangkan ke-mampuan menyamakan, mengem-bangkan kemampuan bergerak, me-rangsang daya imajinasi dengan ber-

bagai cara bermain pura - pura sandi-wara, membedakan benda - benda dengan perabaan, menumbuhkan sportivitas, mengembangkan keperca-yaan diri, mengembangkan kreatifitas, mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dan lain - lain) dan mengembangkan kemam-puan mengontrol emosi, motorik ka-sar. Jenis permainan yang sesuai an-tara lain melompat, memanjat, lari, lompat tali dan lompat jauh (Riyadi,2009,hlm.139). Menurut Notoatmodjo (2003), terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain: Pertama, pendidikan semakin tinggi pendidikan maka akan mempengaruhi pengetahuan tentang sesuatu, contoh : pengetahuan ten-tang manfaat permainan edukatif. Kedua, umur semakin lama sisa hidup di dunia maka semakin tinggi penge-tahuannya tentang banyak hal. Ke-tiga, sumber informasi adalah pene-rangan yang dapat diperoleh dari suatu sumber yang dapat berupa me-dia cetak televisi, radio, internet. Ke-empat, pekerjaan jenis pekerjaan yang dapat mempengaruhi penge-tahuan tentang manfaat pemberian imunisasi bagi balita seperti perawat atau bidan dibandingkan dengan pe-tani, maka pengetahuan perawat tentang man-faat pemberian imunisasi bagi balita akan lebih baik. Kelima, pengalaman semakin banyak penga-laman seseorang, maka semakin ba-nyak usaha seseorang untuk meng-atasi suatu masalah bisa dari diri sen-diri maupun dari orang lain. Terlihat dari penelitian ini ibu yang mempunyai anak usia 3 - 4 tahun aktif dalam memberikan stimulus kepada anaknya. Padahal orang tua sekarang sibuk dengan bekerja, akan tetapi anakpun membutuhkan lebih banyak perhatian orang tua (Mesrani,2009). Stimulasi dalam hal ini bisa diarti-kan juga sebagai upaya orang tua atau keluarga untuk mengajak anak

5

bermain dalam suasana penuh gem-bira dan kasih sayang (Aboud, 2007). Aktifitas bermain dan suasana cinta ini penting guna merangsang seluruh sistem indera, melatih kemampuan motorik halus dan kasar, kemampuan berkomunikasi serta perasaan dan pi-kiran si anak. Perkembangan motorik anak akan lebih teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak men-dukung mereka untuk bergerak be-bas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot yaitu salah satunya dengan meni-tipkan anaknya pada sekolah anak usia dini atau PAUD.

b. Perilaku Penggunaan Alat Permainan Edukatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku dalam penggunaan alat per-mainan edukatif sudah baik yaitu se-banyak 29 responden (58%). Hal ini berarti penggunaan alat permainan edukatif di PAUD Anggrek sudah ber-jalan dengan baik. Beberapa jenis alat permainan edukatif sudah dikembang-kan dan berjalan di PAUD Anggrek, seperti melompat, berlari, lompat tali dan sebagainya. Alat permainan edukatif (APE) adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk ke-pentingan pendidikan. Menurut Direk-torat PAUD (2003) mendefinisikan alat permainan edukatif sebagai sega-la sesuatu yang dapat digunakan se-bagai sarana atau peralatan untuk bermain yang mengandung nilai edu-katif (pendidikan) dan dapat meng-embangkan seluruh kemampuan anak. Alat permainan edukatif diguna-kan untuk anak dirancang secara khu-sus untuk me-ngembangkan aspek - aspek perkembangan anak. APE untuk mengembangkan ber-bagai aspek perkembangan anak TK. Aspek - aspek yang dikembangkan meliputi aspek moral, agama, sosial,

emosi, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni. APE juga mendorong anak untuk beraktifitas dan bersifat kons-truktif atau menghasilkan sesuatu, berbeda dengan menonton TV atau mendengarkan radio, anak hanya pa-sif melihat dan mendengarkan. APE anak dapat berimajinasi dan berkre-asi menghasilkan sesuatu (Zulkifli, 2005, hlm.45). Penggunaan alat peraga edukatif dapat merangsang tumbuh kembang anak secara baik. Tumbuh kembang anak yang pernah menggunakan alat permainan edukatif mempunyai per-bedaan dalam pemberian stimulasi, anak yang pernah menggunakan alat permainan anak mendapatkan stimu-lasi yang lebih, dibandingkan anak yang tidak menggunakan permainan edukatif (Hutabarat, 2007, hlm.83). Melatih kemampuan motorik, sti-mulasi untuk motorik halus diperoleh pada saat anak meraih dan mengam-bil mainannya, meraba, memgang de-ngan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerakkan ma-innya, melempar, mengangkat, dan sebagainya. Melatih konsentrasi, APE dirancang untuk menggali kemampu-an anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi dan fokus. Saat menyusun puzzel, katakanlah, anak di tuntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya sehi-ngga anak tidak berlari atau mela-kukan aktifitas fisik lain sehingga kon-sentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan. Mengenalkan konsep logika se-derhana; anak dilatih untuk berfikir lo-gis dengan mengikuti urutan atau atu-ran sederhana sesuai dengan perma-inan yang di mainkannya, dimana a-nak dapat berfikir secara logis untuk menentukan suatu keputusan antara satu konsep dengan konsep lain dari mainannya, misalnya dalam menyu-sun balok anak akan berfikir bahwa

6

balok yang besar lebih baik jika dile-takan di bagian bawah sebagai pon-dasi sehingga tidak menggangu kese-imbangan bangunan yang di-buatnya. Menurut Notoatmodjo (2007) perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu diantaranya: Pertama, De-terminan atau faktor internal, yakni ka-rakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaan, mi-salnya tingkat kecerdasan, tingkat e-mosional, jenis kelamin dan seba-gainya; Kedua, Determinan atau fak-tor eksternal, yakni lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, budaya, eko-nomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan fak-tor yang dominan yang mewarnai pe-rilaku seseorang.

c. Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia Pra Sekolah Hasil penilaian terhadap responden menunjukkan distribusi frekuensi per-kembangan motorik kasar anak usia pra sekolah yang paling banyak adalah normal sebanyak 23 respon-den (46%). Hasil ini berarti sebagian besar anak anak menunjukkan per-kembangan motorik kasar yang nor-mal. Artinya bahwa perkembangan motorik kasar sudah sesuai dengan tingkat perkembangan usianya dan anak tidak mengalami keterlambatan perkembangan. Penilaian DDST, in-terpretasi normal diberikan jika tidak ada skor Terlambat ( 0 T) atau mak-simal peringatan(1 P). Hasil penelitian ini mendukung pe-nelitian yang dilakukan oleh Herma-wati, Sumantri dan Yuliani (2012) de-ngan kesimpulan bahwa mayoritas perkembangan anak usia pra sekolah di Desa Jombor Ceper Klaten adalah normal sebanyak 48 responden (92,30%). Motorik adalah semua gerakan yang mungkin dapat dilakukan oleh seluruh tubuh, sedangkan perkem-bangan motorik dapat disebut sebagai perkembangan dari unsur kemata-

ngan dan pengendalian gerak tubuh. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri (Sulistya-wati,2014, hlm.147). Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan seluruh tubuh anak. Gerakan ini mengandal-kan kematangan dalam koordinasi. Untuk melatih motorik kasar anak da-pat dilakukan, misalnya dengan mela-tih anak berdiri satu kaki. Dalam per-kembangannya, motorik kasar ber-kembang lebih dahulu dari pada mo-torik halus. Hal ini dapat terlihat saat anak sudah dapat menggunakan otot-otot kakinya untuk berjalan (Soetji-ningsih,2011, hlm.50). Perkembangan motorik kasar anak dipengaruhi oleh berbagai hal. Antara lain faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap perkem-bangan motorik kasar adalah faktor ibu dalam menstimulasi tumbuh kem-bang anak. Peranan ibu dalam mela-tih anak dalam perkembangan motorik kasar anak sangat penting dalam per-kembangan anak selanjutnya. Ku-rangnya stimulasi pada anak dapat menimbulkan hambatan perkemba-ngan motorik selanjutnya, karena per-kembangan motorik seorang anak berjalan secara teratur dengan me-latih anak untuk dapat melalui tahap perkembangan anak sesuai umur anak (Soetjiningsih, 2011).

d. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu

Tentang Alat Permainan Edukatif Dengan PerKembangan Motorik Kasar. Hasil pengujian Chi Square diperoleh nilai x2 sebesar 8,377 dengan nilai p value sebesar 0,015 (p < 0,05). Hal ini dapat disimpulkan pada tingkat sig-nifikan 5%, ada hubungan bermakna antara pengetahuan ibu tentang alat permainan edukatif dengan perkem-

7

bangan motorik kasar anak usia pra sekolah di PAUD Anggrek Kabupaten Pati. Sama halnya dengan penelitian Hermawati, Sumantri dan Yuliani (2012) yang menyimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara pe-ngetahuan ibu tentang alat permainan edukatif dengan perkembangan anak usia prasekolah di Klaten, dengan ni-lai p = 0,001 (p ttabel) dan nilai r = 0,433. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang alat perma-inan edukatif baik, maka perkemba-ngan anak usia pra sekolah akan nor-mal, sehingga hipotesis diterima. Perkembangan motorik kasar se-orang anak dipengaruhi oleh banyak faktor, dimana faktor - faktor tersebut akan saling berhubungan dengan pro-ses berkembang baik secara lang-sung maupun tidak langsung. Salah satu faktor yang mempengaruhi per-kembangan seorang anak adalah ibu, kondisi ibu saat mengasuh anaknya berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang seorang anak. Dimana latar belakang pendidikan ibu, pengetahu-an, umur dan keadaaan ibu yang be-kerja berakumulasi dalam membentuk perkembangan seorang anak (Anwar, 2005,hlm.4). Menurut Hariweni (2003) bahwa seorang ibu mempunyai peran sangat besar dalam memberikan kebutuhan dasar pada anak untuk tumbuh kem-bangnya. Dimana orang tua (ibu) ber-peran sebagai panutan bagi anak da-lam melakukan beberapa ketrampilan, dan anak akan beradaptasi dengan lingkungan serta melakukan interaksi dengan cepat bila anak mengalami kegagalan sesuai dengan tahap dan tugas perkembangannya.

e. Hubungan Antara Perilaku Penggunaan Alat Permainan Edukatif Dengan Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia Pra Sekolah. Hasil pengujian Chi Square diperoleh nilai x2 = 7,780 dengan nilai p-value = 0,020 (p < 0,05). Hal ini dapat disim-pulkan pada tingkat signifikan 5%, ada hubungan yang bermakna antara perilaku penggunaan alat permainan edukatif dengan perkembangan moto-rik kasar anak usia pra sekolah di PAUD Anggrek Kabupaten Pati. Penelitian oleh Sari, Saing dan Lubis (2006) menyimpulkan bahwa ada perbedaan yang bermakna dalam skor ketrampilan motorik pada kelom-pok yang mendapatkan stimulasi de-ngan APE dan kelompok yang tidak mendapatkan stimulasi dengan APE. Menurut Hurlock (2003), kesem-patan untuk menggerakkan semua anggota tubuh, rangsangan dan do-rongan kepada anak mempercepat tercapainya kemampuan motorik. Per-kembangan motorik yang kurang atau gagal meskipun ibunya mempunyai tingkat pengetahuan baik kemungki-nan disebabkan karena kurangnya ke-sempatan untuk berlatih mengguna-kan anggota tubuhnya, serta adanya perlindungan yang berlebihan akan melumpuhkan kesiapan berkembang-nya kemampuan motorik anak (Sulist-yawati, 2014, hlm.25). Sikap juga mempengaruhi dalam pemilihan alat permainan. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap alat permainan belum tentu akan mencerminkan sikap yang baik pula. Oleh karena itu dalam melaku-kan pemilihan alat permainan dibutuh-kan keseimbangan antara pengetahu-an yang dimiliki dengan sikap. Penelitian lain Rossita (2009) me-ngatakan bahwa ada hubungan an-tara sikap dan keaktifan ibu dengan pemberian stimulasi yang tepat me-lalui alat permainan pada anak. Ber-bagai data dan penelitian menyatakan

8

bahwa bermain dengan mengguna-kan alat bantu 70% lebih efektif di-bandingkan dengan tidak mengguna-kan alat bantu untuk perkembangan otak anak di 3 tahun pertama usianya.

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Beberapa simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: Pertama, Distribusi frekuensi pengetahuan ibu di PAUD Anggrek tentang alat permainan edukatif sebagian besar adalah penge-tahuan baik sebanyak 22 responden (44%); Kedua, Perilaku penggunaan alat permainan edukatif pada responden sebagian besar adalah sebanyak 29 responden (58%); Ketiga, Perkemba-ngan motorik kasar anak usia pra se-kolah sebagian besar yang paling ba-nyak adalah normal sebanyak 23 res-ponden (46%); Keempat, Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang alat permainan edukatif dengan perkemba-ngan motorik kasar anak usia pra se-kolah di PAUD Anggrek Kabupaten Pati; Kelima, Ada hubungan antara perilaku penggunaan alat permainan edukatif de-ngan perkembangan motorik kasar anak usia pra sekolah di PAUD Anggrek Kabupaten Pati.

B. Saran Adapun saran yang dapat dikembang-kan berdasarkan penelitian ini dianta-ranya: Pertama, Diharapkan tenaga ke-sehatan dapat memberikan informasi dan pendidikan mengenai hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang alat permainan edukatif dan perilaku peng-gunaan alat permainan edukatif dengan perkembangan motorik kasar anak usia pra sekolah; Kedua, Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pema-haman mengenai alat permainan edu-katif serta secara aktif melatih perkem-bangan motorik kasar anak melalui alat permainan edukatif tersebut; Ketiga, Diharapkan untuk menyediakan buku -buku referensi dan jurnal tentang hubu-ngan tingkat pengetahuan ibu tentang

alat permainan edukatif dan perilaku penggunaan alat permainan edukatif de-ngan perkembangan motorik kasar anak usia pra sekolah, sehingga mahasiswa dapat mempelajari lebih banyak; Keem-pat, Diharapkan untuk peneliti selanjut-nya diharapkan meneliti faktor - faktor lain yang dapat mempengaruhi perkem-bangan motorik kasar anak.

DAFTAR PUSTAKA Adria Dian. (2011). Tumbuh Kembang

dan Terapi Bermain Anak, Jakarta : Salemba Medika.

Alimul hidayat, Aziz. (2007). Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Salemba Medika : Jakarta.

Asrori Mohammad. (2007). Psikologi Pembelajaran. Bandung : CV.Wacana Prima.

Berhman, Ricard E. (2003). Ilimu Kesehatan Anak Edisi 12. Jakarta : EGC.

Gunasa Singgih. (2003). Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hidayat, A. A A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Analisa Data. Jakarta : Salemba Medika.

Hidayat, Aziz Alimul. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan. Edisi Pertama. Jakarta : Salemba Medika.

Hurlock. (2009). Perkembangan Anak. Edisi 6. Jakarta: Erlangga.

Salam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, edisi 2, Salemba Medika : Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo.(2005). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Riyadi sujono, Ratnaingsih Intarti. (2012). Cara Praktis Orang Tua Membantu Pertumbuhan dan Perkembangan Anak.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Riyadi Sujono, Ratnaningsih Intart. (2012). Cara Praktis Orang Tua

9

untuk Memantau Pertumbuhan da Perkembangan Anak. Edisi Pertama. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.