PENGARUH PEMBERIAN TERAPI BERMAIN lppm. ? Permainan pada anak yang rawat inap di RS tidak hanya memberikan rasa senang pada anak tetapi ... responden yang menyukai bermain boneka, dan

  • Published on
    05-Feb-2018

  • View
    215

  • Download
    2

Transcript

JURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 201036PENGARUH PEMBERIAN TERAPI BERMAIN MEWARNAI GAMBAR TERHADAPPENURUNAN TINGKAT KECEMASAN ANAK PRASEKOLAH YANG RAWAT INAP(Studi Experimental di Ruang Nusa Indah Rumah Sakit Umum Daerah Pare Tahun 2010)Emi Agustina 1, Artie Puspita 21 Dosen Akademi Keperawatan Pamenang2 Perawat RSUD PareABSTRAKAnxiety is one of the reactions of children having inpatient treatment in a hospital. Ifunrelieved, it can make them uncooperative during the treatment process. The objectives of thisstudy was to know the effect of Playing therapy by colouring picture on alleviating anxieties ofpreschool-age children undergoing inpatient treatment in Nusa Indah Ward of Kediri PublicHospital, Pare.Research method used in the research was pre-experimental research, by pre and posttreatment. The research employs 8 of all preschool-age children undergoing inpatient treatment inNusa Indah Ward of Pare Regional Public Hospital from March 19, 2010 to April 19, 2010 as asample. These data were processed by comparing the anxiety scale before the treatment with it afterthe treatment by Hamilton Anxiety Rating Scale, and analyzing data by Cross Tabulating andWilcoxon's test.The research concludes that before the treatment 62,5% of all respondents (5 respondents)are on small anxiety scale and 37,5% of them (3 respondents) are on moderate anxiety scale;meanwhile, after the treatment 87,5% of all respondents (7 respondents) do not feel anxieties and12,5% of them (1 respondent) are on small anxiety scale.This means that the playing therapy by colouring a picture is proper to be an alternativetherapy method to use in the hospital to ease preschool-age children's anxieties when receivinginpatient treatment.Key Words: Playing Therapy, Preschool-Age Children, Inpatient Treatment.LATAR BELAKANGAnak adalah individu yang sedang dalamproses tumbuh kembang, mempunyai kebutuhanspesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yangberbeda dengan orang dewasa. Kebutuhanfisik/biologis anak mencakup makan, minum, udara,eliminasi, tempat berteduh dan kehangatan. Secarapsikologis anak membutuhkan cinta dan kasihsayang, rasa aman atau bebas dari ancaman(Supartini, 2004). Kondisi anak yang kurangbaik/sakit yang mengharuskan seorang anak rawatinap di Rumah Sakit (RS) akan membuat anak danorang tua tidak hanya dihadapkan pada masalahkesehatan fisik anak saja tetapi juga psikologiskarena baik anak maupun orang tua harusberadaptasi dengan lingkungan yang asing. Hasilstroom dan Elander (1997), Brewis,E (1995),Brennan,A (1994) mengemukakan bahwahospitalisasi anak dapat menjadi suatu pengalamanyang dapat menimbulkan reaksi tertentu yangberdampak pada kerjasama anak dalam perawatananak selama di RS. Reaksi tersebut dalam bentukkecemasan dari fase ringan sampai berat yangtentunya akan mempengaruhi proses penyembuhananak selama di RS (Supartini, 2004).Anak prasekolah yang dirawat di RSmenunjukkan reaksi berupa perilaku seperti protes,putus asa, dan regresi (Wong, 2003). Sikap regresibisa dalam bentuk menangis, bersandar pada ibu,serta menolak makan maupun pengobatan.Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakandi ruang Nusa Indah RSUDJURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 201037Pare tanggal 10 Oktober 2009 didapatkan 4dari 6 anak prasekolah yang rawat inap mengalamikecemasan selama perawatan. Dua orang anakmengalami susah tidur, terus menangis di malamhari. Satu orang anak melepas infus dengan paksa,dan satunya lagi merengek ingin segera pulang.Tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadapkondisi kesehatan mereka sehingga perlu dilakukanusaha guna mengurangi tingkat kecemasan anaktersebut.Hasl stroom (dalam Supartini, 2004)mengemukakan reaksi yang ditunjukkan oleh anakyang menjalani hospitalisasi/ rawat inap umumnyatidak koopertif saat dilakukan perawatan. Haltersebut dapat terjadi karena anak menghadapisesuatu yang baru yang belum pernah dialamisebelumnya, rasa tidak aman dan tidak nyaman,perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya,dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Umumnyatenaga kesehatan melakukan komunikasi terapeutik,melibatkan orang tua dalam perawatan,memodifikasi ruang perawatan untukmemaksimalkan manfaat hospitalisasi anak(Supartini, 2004). Namun tidak hanya itu yangdiperlukan oleh anak prasekolah yang kurangkooperatif karena cemas, mereka memerlukan terapiyang dapat membuat mereka nyaman sehinggamanfaat hospitalisasi bisa lebih maksimal. Salahsatu intervensi keperawatan dalam mengatasidampak hospitalisasi anak adalah denganmemberikan terapi bermain. Menurut Champbelldan Glasser (dalam Supartini, 2004) Bermainmerupakan aspek penting dalam kehidupan anakserta merupakan satu cara paling efektif untukmenurunkan stres pada anak dan penting utnukkesejahteraan mental dan emosional anak.Permainan pada anak yang rawat inap di RS tidakhanya memberikan rasa senang pada anak tetapijuga membantu anak mengekspresikan perasaan,pikiran cemas, takut, sedih, tegang, dan nyeri. Tentusaja permainan tersebut harus sesuai dengan prinsipbermain anak selama di RS yaitu tidakmembutuhkan banyak energi, waktunya singkat,mudah dilakukan, aman, sesuai kelompok umur,melibatkan orang tua, dan tentunya tidakbertentangan dengan terapi. Pada anak-anak yangbelum dapat mengekspresikan perasaan dan pikiranmereka misalnya pada anak usia prasekolah (3-6tahun) permainan menggambar, mewarnai ataumelukis merupakan permainan yang sesuai denganprinsip bermain di RS dan dapat mambantumengekspresikan perasaan pikiran cemas, takut,sedih, tegang, dan nyeri (Supartini, 2004).Mewarnai memberikan kesempatan pada anakuntuk bebas berekspresi dan sangat therapeutic(sebagai permainan penyembuh/ therapeutic play)yang membuat anak mengekspresikan perasaannya,sebagai cara berkomunikasi tanpa menggunakankata. (Suparto, 2003). Warna juga merupakan mediaterapi untuk membaca emosi seseorang dan dapatmeringankan stress pada anak (Farida, 2009).Berdasarkan uraian di atas maka penelititertarik untuk mengetahui pengaruh pemberianterapi bermain mewarnai gambar terhadappenurunan tingkat kecemasan pada anak prasekolahyang rawat inap di ruang Nusa Indah RSUD Pare.METODE PENELITIANPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatifdengan pendekatan eksperimental jenis one grouppre and post test design. Pengambilan datapenelitian dilakukan pada tanggal 19 maret sampai19 april 2010 di Ruang Nusa Indah yang merupakanruang perawatan anak RSUD Pare. Variabelpenelitian ini meliputi variabel independent yaituterapi gambar dan variabel ini sekaligus merupakanvariabel yang dikontrol oleh peneliti. Sedangkanvariabel dependen dalam penelitian ini adalahkecemasan. Populasi penelitian adalah seluruh anakpra sekolah yang dirawat di rumah sakit selamaperiode penelitian. Sampel adalah sebagian anak prasekolah yang dirawat yang ditetapkan dengancriteria tertentu. Teknik penentuan sampel dilakukandengan menggunakan metode purposif sampling.Pengambilan data dilakukan dengan menggunakanskala Hamilton Anxiety Rating Scale dan dilakukansebelum dan setelah perlakuan (pemberian terapigambar) pada anak. Analisis data dilakukan denganpendekatan analisis deskriptif yang dilanjutkandengan Uji Wilcoxon.Penelitian ini menggunakan pendekatan etikpenelitian meliputi persetujuan (inform concent),ketanpanamaan (anonymity) serta kerahasiaan(convidentiality).JURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 201038HASIL PENELITIAN1. Karakteristik Responden berdasarkan Usia25%25%0%37,5 %12,5%3 tahun 3.5 tahun4 tahun 5 tahun6 tahunDiagram di atas menunjukkan bahwa dari 8responden yang diteliti 37,5% atau 3 respondenberusia 4 tahun , 25% atau 2 responden yangberusia 5 tahun, 25% atau 2 responden berusia 3tahun, 12,5% atau 1 responden berusia 3,5tahun, , dan 0% atau tidak ada sama sekaliresponden yang berusia 6 tahun.2. Karakteristik Responden berdasarkan JenisKelamin37,5%62,5%Laki-laki PerempuanDiagram di atas menunjukkan bahwa dari 8responden yang diteliti lebih dari setengahresponden yaitu 62,5% atau 5 responden yangberjenis kelamin laki-laki dan sisanya yaitu37,5% atau 3 responden berjenis kelaminperempuan.3. Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan62,5%37,5%Belum Bersekolah Nol KecilDiagram diatas menunjukkan bahwa dari 8responden yang diteliti ada lebih dari setengahresponden yaitu 62,5 % atau 5 responden yangbelum bersekolah, dan 37,5% atau 3 respondenyang bersekolah Taman Kanak-Kanak tingkatNol Kecil.4. Karakteristik Responden berdasarkan RiwayatMRS Sebelumnya12,5%87,5 %Belum Pernah MRS Pernah MRSDiagram di atas menunjukkan bahwa dari 8responden yang diteliti responden yaitu 87,5%atau 7 orang responden belum pernah MasukRumah Sakit (MRS) sebelumnya, dan hanya12,5 % responden atau 1 orang responden sajayang sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit(pernah MRS).5. Karakteristik Responden berdasarkan Permainanyang disukai12,5%25% 12,5%50%mobil-mobilan mewarnaiboneka menyanyiDiagram di atas menunjukkan bahwa dari 8responden yang diteliti, ada 50% atau 4responden yang menyukai mewarnai, 25 % atau2 responden yang suka menyanyi, 12,5% atau 1responden yang menyukai bermain boneka, dan12,5% atau 1 responden yang menyukaipermainan mobil- mobilan.JURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 2010396. Karakteristik Responden berdasarkan JenisPenyakit yang diderita12,5%12,5%25% 50%Observasi FebrisObservasi Febris dan diareObservasi Febris dan VomitingDengue Syok SindromeDiagram di atas menunjukkan bahwa dari 8responden yang diteliti, ada 50% atau 4responden yang MRS dengan observasi febris,dengan rincian sebagai berikut: 1 respondendengan observasi febris hari ke-2, 1 orangresponden dengan observasi febris hari ke-3,dan 2 orang responden observasi febris hari ke-4, ada 25 % atau 2 responden yang MRS denganobservasi febris dan vomiting, dengan masing-masing responden observasi febris hari ke-7 danlainnya hari ke-10, dan ada 12,5% atau 1responden yang MRS dengan observasi febrisdan diare, serta 12,5% atau 1 responden MRSdengan DSS (Dengue Syok Sindrom) hari ke-4.7. Distribusi Frekuensi Hasil Pengukuran TingkatKecemasan Pre Test0%62,5%37,5%Tidak ada kecemasan Cemas ringanCemas sedang Cemas beratDiagram di atas menunjukkan frekuensiresponden yang mengalami kecemasan denganmenggunakan Hamilton Anxiety Rating Scaleyang dimodifikasi (pre test) di ruang Nusa IndahRSUD Pare sebelum diberikan terapi bermainmewarnai gambar. Hasil pre test dari 8responden menunjukkan 62,5% atau 5responden mengalami kecemasan ringan, 37,5%atau 3 responden yang mengalami kecemasansedang dan 0 % atau tidak terdapat respondenyang tidak mengalami kecemasan maupun yangmengalami kecemasan berat.8. Distribusi Frekuensi Hasil Pengukuran TingkatKecemasan Post Test0%0%12,5 %87,5 %Tidak ada kecemasan Cemas ringanCemas sedang Cemas beratDiagram diatas menunjukkan hasilpenelitian frekuensi responden yang mengalamikecemasan dengan menggunakan skala HARSyang dimodifikasi di ruang Nusa Indah RSUDPare setelah diberikan terapi bermain mewarnaigambar (post test). Hasil post test dari 8responden menunjukkan 87,5% atau 7responden tidak mengalami kecemasan, dan12,5% atau 1 responden yang mengalamikecemasan ringan.JURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 2010409. Tabulasi Silang Terapi Bermain Mewarnai Gambar dengan Tingkat Kecemasan Menggunakan HARS(Hamilton Anxietas Rating Scale) Pre dan Post Test.NOTingkatKecemasanTerapiBermainPre TestTotalPost TestTotalTidakadaRingan Sedang BeratTidakadaRingan Sedang Berat1 Mengerjakan00%00%00%00%00%787,5%112,5%00%00%8100%2TidakMengerjakan00 %562,5%337,5 %00%8100 %00%00%00 %00%00%Total00 %562,5 %337,5 %00%8100%787,5%112,5%00%00%8100%Berdasarkan tabel di atas tampakbahwa tingkat kecemasan anak sebelumpemberian terapi (Pre test) adalah 62,5% atau 5responden mengalami kecemasan ringan, 37,5%atau 3 responden yang mengalami kecemasansedang dan 0% atau tidak terdapat respondenyang tidak mengalami kecemasan maupunmengalami kecemasan berat. Sedangkan tingkatkecemasan anak setelah pemberian terapi (Posttest) adalah 87,5% atau 7 responden mengalamitidak mengalami kecemasan, dan 12,5% atau 1responden yang mengalami kecemasan ringan,dan 0% atau tidak terdapat responden yangmengalami kecemasan sedang maupun berat.Dari hasil uji statistik Wilcoxonmenggunakan SPSS 14 didapatkan hasil dengantingkat signifikansi 0,011 yang masih di bawahtingkat kesalahan yang ditetapkan yaitu 0,05yang artinya Ho ditolak dan H1 diterima yangdapat diartikan bahwa ada pengaruh PemberianTerapi Bermain Mewarnai Gambar terhadapTingkat Kecemasan Anak Prasekolah yangRawat Inap di Ruang Nusa Indah RSUD Pare.PEMBAHASAN1. Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah yangRawat Inap di Ruang Nusa Indah RSUD Parea. Tingkat kecemasan anak prasekolah yangrawat inap di ruang Nusa Indah RSUD Paresebelum diberikan terapi bermain mewarnaigambarBerdasarkan hasil penelitiandidapatkan 62,5% atau 5 respondenmengalami kecemasan ringan, 37,5% atau 3responden yang mengalami kecemasansedang.Kecemasan adalah ketegangan, rasatidak aman dan kekawatiran yang timbulkarena dirasakan terjadi sesuatu yang tidakmenyenangkan tetapi sumbernya sebagianbesar tidak diketahui dan berasal dari dalam(DepKes RI, 1990).Reaksi anak dan keluarganya terhadapsakit dan rumah sakit adalah dalam bentukkecemasan, stres, dan perubahan perilaku.Reaksi anak prasekolah ketika mengalamiperawatan di rumah sakit adalah denganmenunjukkan reaksi perilaku seperti protes,putus asa, dan regresi (Wong, 2003). Haslstroom dan Elander (1997), Brewis,E(1995), Brennan,A (1994) mengemukakanbahwa hospitalisasi anak dapat menjadisuatu pengalaman yang dapat menimbulkanreaksi tertentu yang berdampak padakerjasama anak dalam perawatan anakselama di RS. Reaksi tersebut dalam bentukkecemasan dari fase ringan sampai beratyang tentunya akan mempengaruhi prosespenyembuhan anak selama di RS.Hasil tingkat kecemasan anakprasekolah yang rawat inap di ruang NusaIndah RSUD Pare dengan menggunakanHARS (Hamilton Anxiety Rating Scale)yang di modifikasi adalah 62,5% atau 5responden mengalami kecemasan ringan,37,5% atau 3 responden yang mengalamikecemasan sedang, sehingga dapatdisimpulkan bahwa anak prasekolah yangmenjalani rawat inap di rumah sakitmemang mengalami kecemasan. Maka, halJURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 201041ini seiring dengan teori dari Wong, Haslstroom dan Elander yang menyatakanbahwa reaksi anak yang menjalani rawatinap di rumah sakit salah satunya dalambentuk kecemasan.b. Tingkat kecemasan anak prasekolah yangrawat inap di ruang Nusa Indah RSUD Paresetelah diberikan terapi bermain mewarnaigambarBerdasarkan hasil penelitianmenunjukkan bahwa lebih dari setengahresponden yaitu 87,5% atau 7 respondentidak mengalami kecemasan,dan 12,5% atau1 responden yang mengalami kecemasanringan.Bermain merupakan kegiatan yangdilakukan secara sukarela untukmemperoleh kesenangan/kepuasan(Supartini, 2004). Salah satu intervensikeperawatan dalam mengatasi dampakhospitalisasi pada anak adalah denganmemberikan terapi bermain. Terapi bermaindapat dilakukan untuk mengurangi rasategang dan emosi yang dirasakan anak.(Indra, 2008). Melalui permainan anak akanterlepas dari ketegangan dan stress yangdialaminya karena dengan melakukanpermainan anak akan dapat mengalihkanrasa sakitnya pada permainannya (distraksi)dan relaksasi melalui kesenangannyamelakukan permainan (Supartini, 2004).Aktivitas mewarnai merupakan suatubentuk distraksi (pengalihan perhatian) daristres. Karena stres dapat membuat pikiranbuntu, maka mewarnai gambar yang lucudapat merangsang kreativitas sekaligusmemancing kegembiraan. (Aswi, 2008)Hasil tingkat kecemasan yangmengalami penurunan yaitu sebelumdiberikan terapi (pre test) terdapat 37,5%responden yang mengalami kecemasanansedang setalah diberikan terapi (post test)menjadi 0% atau tidak ada responden yangmengalami kecemasan sedang, dan tingkatkecemasan ringan yang semula sebelumpemberian terapi 62,5% menjadi 12,5%.Hal ini menunjukan bahwa tingkatkecemasan anak sesudah pemberian terapibermain mewarnai gambar mengalamipenurunan. Maka hal ini sesuai dengan teoridari Supartini dan Indra yang menyatakanbahwa terapi bermain dapat mengurangirasa tegang pada anak dan juga sesuaidengan teori dari Aswi yang menyatakanbahwa aktivitas mewarnai dapatmengalihkan perhatian dari stres karenaterbukti anak yang diberikan terapi bermainmewarnai gambar tingkat kecemasannyaberkurang. Sehingga terapi bermainmewarnai gambar ini layak dijadikanalternatif untuk mengurangi kecemasananak khususnya anak prasekolah yang rawatinap dirumah sakit.2. Pelaksanaan Terapi Bermain Mewarnai GambarTerapi bermain mewarnai gambardiberikan pada 8 responden sesuai kriteriainklusi dan eksklusi yang ditetapkan penelitidari populasi sejumlah 30 anak prasekolah yangrawat inap di ruang Nusa Indah RSUD Paremulai tanggal 19 Maret 2010 19 April 2010.Bermain merupakan kegiatan yangdilakukan secara sukarela untuk memperolehkesenangan/kepuasan (Supartini, 2004).Bermain merupakan aspek penting dalamkehidupan anak serta merupakan satu carapaling efektif untuk menurunkan stres pada anakdan penting utnuk kesejahteraan mental danemosional anak (Champbell dan Glasser, 1995).Aktivitas mewarnai merupakan suatu bentukdistraksi (pengalihan perhatian) dari stres.Mewarnai memberikan kesempatan pada anakuntuk bebas berekspresi dan sangat terapeutik(sebagai permainan penyembuh/ therapeuticplay) yang membuat anak mengekspresikanperasaannya, sebagai cara berkomunikasi tanpamenggunakan kata. (Suparto, 2003).Dalam pemberian terapi ini, seluruhresponden yaitu sejumlah 8 responden bersediamengerjakan terapi ini tanpa paksaan danhampir seluruh responden selama pelaksanaanterapi maupun sesudahnya tampak ceria dantampak lebih bersemangat dari sebelumnya.Hampir seluruh responden yang semula lesu danacuh setelah diberikan terapi mau berbicara, danbercerita dengan keluarga maupun peneliti.Selain itu sesudah pemberian terapi ini terdapatpula perubahan perilaku setengah responden ( 4orang responden) yang semula terdapatgangguan dalam hal makan yaitu makan sedikit,setelah pemberian terapi bermain mewarnaigambar responden menjadi bersedia makan atautidak ada gangguan lagi.Apabila terapi ini diterapkan untuk anakprasekolah yang mengalami kecemasan makaJURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 201042dapat menurunkan tingkat kecemasan karenaselama pemberian terapi maupun sesudahnyaresponden ceria, lebih bersemangat, danmengalami perubahan perilaku.3. Pengaruh Pemberian Terapi Bermain MewarnaiGambar terhadap Penurunan TingkatKecemasan pada Anak Prasekolah yang RawatInap di Ruang Nusa Indah RSUD Pare.Berdasarkan diagram hasil penelitianmenunjukkan 62,5% atau 5 respondenmengalami kecemasan ringan, 37,5% atau 3responden yang mengalami kecemasan sedang.Kemudian diberikan terapi bermainmewarnai gambar adapun hasil evaluasinyaadalah 8 orang responden bersedia mengerjakandan setelah diberikan terapi 87,5% atau 7responden tidak mengalami kecemasan,dan12,5% atau 1 responden yang mengalamikecemasan ringan.Dari hasil uji statistis Wilcoxon didapatkanhasil dengan tingkat signifikansi 0,011 yangmasih di bawah tingkat kesalahan yangditetapkan yaitu 0,05 yang artinya Ho ditolakdan H1 diterima yang dapat diartikan bahwa adapengaruh Pemberian Terapi Bermain MewarnaiGambar terhadap Penurunan TingkatKecemasan pada Anak Prasekolah yang RawatInap di Ruang Nusa Indah RSUD Pare.Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akanmengalami berbagai perasaan yang sangat tidakmenyenangkan, seperti marah, takut, cemas,sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakandampak dari hospitalisasi yang dialami anakkarena menghadapi beberapa stressor yang adadilingkungan rumah sakit. Untuk itu, denganmelakukan permainan anak akan terlepas dariketegangan dan stress yang dialaminya karenadengan melakukan permainan anak akan depatmengalihkan rasa sakitnya pada permainannya(distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannyamelakukan permainan (Supartini, 2004).Salah satu permainan yang dapat diberikanpada anak prasekolah yang mengalamikecemasan adalah terapi bermain mewarnaigambar. Karena pada usia ini anak menyukaiwarna-warna, pensil berwarna sangat menarikbagi anak-anak usia 3 dan 4 tahun (Syaiffudin,2008).Hasil penelitian yang didapatkan,menunjukkan bahwa tingkat kecemasansebelum diberikan terapi (pre test) terdapat37,5% responden yang mengalami kecemasanansedang kemudian setelah diberikan terapi (posttest) menjadi 0% atau tidak ada responden yangmengalami kecemasan sedang, dan tingkatkecemasan ringan yang semula 62,5% setelahdiberikan terapi bermain mewarnai gambarmenjadi 12,5%. Hal ini menunjukkan bahwaterapi bermain mewarnai gambar memilikipengaruh dalam penurunan tingkat kecemasananak sehingga terapi ini dapat diterapkan dirumah sakit khususnya pada anak usiaprasekolah yang mengalami kecemasan.SIMPULAN1. Anak prasekolah yang menjalani rawat inap diruang Nusa Indah RSUD Pare sebelumdiberikan terapi bermain mewarnai gambarmengalami kecemasan yaitu 62,5% atau 5responden mengalami kecemasan ringan, 37,5%atau 3 responden yang mengalami kecemasansedang dan setelah diberikan terapi tingkatkecemasan menurun yaitu 87,5% atau 7responden tidak mengalami kecemasan, dan12,5% atau 1 responden yang mengalamikecemasan ringan.2. Dalam pemberian terapi ini, seluruh respondenyaitu sejumlah 8 responden bersediamengerjakan terapi ini tanpa paksaan danhampir seluruh responden selama pelaksanaanterapi maupun sesudahnya tampak ceria, lebihbersemangat, mau berbicara, dan bercerita sertaterdapat pula perubahan perilaku dalam halmakan.3. Dari hasil analisis menggunakan uji statistikWilcoxon menggunakan didapatkan hasildengan tingkat signifikansi 0,011 yang masih dibawah tingkat kesalahan yang ditetapkan yaitu0,05 yang artinya Ho ditolak dan H1 diterimayang dapat diartikan bahwa ada pengaruhpemberian terapi bermain mewarnai gambarterhadap penurunan tingkat kecemasan anakprasekolah yang rawat inap di ruang nusa indahRSUD Pare.JURNAL AKP No. 2, 1 Juli 31 Desember 201043DAFTAR PUSTAKAArikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian SuatuPendekatan Praktek. Jakarta: Rineka CiptaAswi. (2008).50 Cara Ampuh Mengatasi Stress.Jakarta: Hi Fest PublishingHartono, Avi. (2009). Lahirnya Gambar danMengapa Manusia Menciptakannya.www.netsains.com (download: 23 November2009)Ita. (2009). Manfaat Mewarnai bagi Si Kecil.Webmaster@metrotvnews.com. (download: 12Agustus 2009)Notoatmodjo, Sukidjo. (2002). MetodologiPenelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta________________________(2005). MetodologiPenelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka CiptaTuti. (2009). Rawat Inap.http://www.wikipedia.com. (download: 10November 2009)Nursalam. (2008). Konsep dan PenerapanMetodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika__________ (2008). Konsep dan PenerapanMetodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.Jakarta: Salemba MedikaPri. (2009). Teori Kecemasan.http://www.artikelkesehatan.com. (download:05 Agustus 2009)Suliswati, et. al. (2005). Konsep DasarKeperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGCSupartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep DasarKeperawatan Anak. Jakarta: EGCSupriyadi. (2009). Hospitalisasi pada Anakhttp://akperppnisolojateng. blogspot.com.(download: 29 September 2009)Wasis. (2008) Pedoman Riset Praktis Untuk ProfesiPerawat. Jakarta: EGC--. (2009) . Definisi warna.http://www.wikipedia.com. (download: 10November 2009)