Proposal Terapi Bermain Plastisin Di TK UIN

  • Published on
    11-Dec-2015

  • View
    98

  • Download
    22

DESCRIPTION

keperawatan

Transcript

PROPOSAL TERAPI BERMAIN PLASTISIN DI TK RA UIN ALAUDDIN MAKASSARDISUSUN OLEH :Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angkatan VIIIMuh. Ali, S.KepTenri Siar R, S.KepHasria, S.KepMariana, S.KepArni Damayanti, S.KepArsi Saputra, S.KepErvina Sahrani S., S.KepAfriadi, S.KepPERSEPTOR LAHAN PERSEPTOR INSTITUSI( ) ( )PROGRAM PROFESI NERSFAKULTAS ILMU KESEHATANUNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR2015PROPOSAL TERAPI BERMAIN PLASTISIN DI RUANG AULA TK RA UIN ALAUDDIN MAKASSARPokok Pebahasan: Terapai Bermain Pada Anak Usia PrasekolahSub Pokok Pembahasan: Bermain PlastisinTanggal/Jam: 16 September 2015Tempat: Aula TK ALAUDDIN MAKASSARSasaran: Anak Usia Prasekolah (Usia 3-5 tahun)Waktu: 60 MenitA. Latar BelakangBermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya.Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain. Dalam sub pokok bahasan yang kita angkat pada terapi bermain ini adalah bermain plastisin dengan sasaran anak usia prasekolah, dimana dengan bermain plastisin dapat melatih perkembangan mental dan kreativitas anak. Plastisin adalah bahan tiga dimensi. Ini membolehkan anak untuk memiliki kebebasan untuk berkreativitas yang lebih daripada ketika mereka dengan dua dimensi seperti melukis atau ketika menggambar. Dengan plastisin, anak dengan bebas dapat menciptakan potongan-potongan plastisin menjadi hali yang realistis, imajinasi atau simbolik. Contohnya misal seperti, seorang anak menciptakan potongan plastisin tersebut menjadi replica monster. Potongan ini, mewakili monster, terlihat nyata, dan terlihat seperti binatang, atau dapat terlihat seperti tokoh fantasi, atau mungkin potongan itu merupakan suatu symbol yang khusus, atau bahkan mungkin hanya potongan yang dibentuk kasar.B. Tujuan1. Tujuan UmumSetelah dilakukan permainan, diharapkan pada anak dapat mengembangkan mental dan kreativitasnya melalui pengalaman, dapat beradaptasi efektif terhadap stress, serta dapat meningkatkan optimalisasi kemampuan diri.2. Tujuan KhususSetelah bermain anak diharapkan :a. Bisa berinteraksi dengan sesama murid.b. Dapat mengembangkan social, motorik halus, bahasa, dan motorik kasar.c. Dapat beradaptasi dengan stress dalam dirid. Kebutuhan bermain anak dapat terpenuhie. Kooperatif perawatan dan pengobatanC. MetodeMetode terapi bermain yang digunakan adalah anak dikumpulkan sebanyak 10 orang. Dengan plastisin, masing-masing anak dengan bebas dapat menciptakan potongan-potongan plastisin menjadi hal yang realistis, imajinasi atau simbolik. Misalnya tokoh fantasi, atau mungkin potongan itu merupakan suatu simbol yang khusus. Tidak ada peraturan yang mengikat dalam membentuk plastisin, sehingga anak dapat merasakan kebebasan untuk mengekspresikan kondisinya saat itu. Tujuannya : anak dapat berperan dalam sebuah permainan dan beradaptasi dengan stress yang dialami dan lingkungan. Selain itu diharapkan pada anak dapat mengasah daya kreativitas antara sesama melalui permainan plastisin.D. Media Dan AlatPlastisinE. Kegiatan PermainanNoKegiatanRespon AnakWaktu1.Persiapan : Menyiapkan ruangan Menyiapkan alat-alat Menyiapkan anak dan keluargaRuangan, alat, anak dan keluarga siap10 menit2.Pembukaan :Membuka proses terapi bermain dengan mengucapkan salam, memperkenalkan diriMenjawab salam, memperkenalkan diri5 menit3.Isi : Menjelaskan pada anak dan keluarga tentang tujuan dan manfaat bermain, menjelaskan cara permainan Megajak anak bermain (bermain plastisin) Mengevaluasi respon anak dan keluargaAnak memperhatikan dengan seksamaBermain bersama dengan antusiasMengungkapkan perasaannya dan Tanya jawab5 menit30 menit5 menit4.Penutup :Menyimpulkan, mengucapkan salamMemperhatikan dan menjawab salam5 menitF. Pengorganisasian1. Leader : Ervina Sahrani S.Bertanggung jawab terhadap terlaksananya terapi bermain, menjelaskan pelaksanaan dan mendemonstrasikan aturan dan cara bermain dalam terapu bermain.2. Co Leader : Muh. AliMembukan dan menutup kegiatan ini3. Fasilitator : Mariana, Arni Damyanti, Tenri Siar R., Hasriah, Afriadi.Menyiapkan alat dan tempat permainan serta mendampingi setiap peserta dalam terapi bermain.4. Observer : ObeserverMemfasilitasi pelaksanaan terapi bermain, mengobservasi, mengamati, dan mencatat jalannya terapi bermain.G. Setting TempatTerapi bermain ini dilakukan di Aula TK RA ALAUDDIN MAKASSAR dengan setting tempat sebagai berikut :Keterangan :: Leader: Co Leader: Fasilitator: Peserta: ObserverH. Evaluasi Anak telah belajar memecahkan masalah melalui eksplorasi alat mainannya Anak dapat mengembangkan kreatifitas dan mengekspresikan emosinya. Anak dapat mengembangkan hubungan social, komunikasi dan belajar untuk sabar dan saling menghargai Anak mampu dalam tingkah lakunya, misalnya jika anak A mendapat giliran, maka anak B memberikan kesempatan untuk plastisin Anak dapat mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya terutama dari orang tua dan guru Anak merasa terlepas dari ketegangan dan stress dengan mengalihkan perhatian pada permainannya Anak dapat berinteraksi dengan anak lain dan guru1. StrukturEvaluasi dari persiapan, Tempat, Kontrak waktu sudah dilakukan :a. Dimulai dari Leader, Co Leader, Observer, dan Fasilitatorb. Fasilitator memberikan alat dan bahan permainanc. Terapi bermain dilakukan di Aula TK ALAUDDIN MAKASSARd. Minta anak untuk bermain plastisin bersamae. Berikan waktu 30 untuk bermain plastisin2. Evaluasi Prosesa. Leader dapat memimpin jalannya permainan, dilakukan dengan tertib dan teraturb. Co Leader dapat membantu tugas Leader dengan baikc. Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainand. 100% anak dapat mengikuti permainan secara aktif dari awal sampai akhir3. Evaluasi hasila. 100% anak merasa aman dan nyamanb. 100% mampu mengikuti kegiatan yang dilakukanc. 63,3% anak dapat menyatakan perasaan senangKONSEP TEORI BERMAINA. PengertianBermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000).Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesaui dengan keinginanya sendiri dan memperoleh kesenangan. Bermain adalah cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadarinya.Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak.B. Fungsi1. Perkembangan Sensoria. Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta koordinasib. Meningkatkan perkembangan semua indrac. Mendorong eksplorasi pada sifat fisik duniad. Memberikan pelampiasan kelebihan energy2. Perkembangan yang intelektuala. Memberikan sumber sumber yang beraneka ragam untuk pembelajaranb. Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna.c. Pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, konsep abstrakd. Kesempatan untuk mempraktikan dan memperluas keterampilan berbahasae. Memberikan kesempatan untuk melatih masa lalu dalam upaya mengasimilasinya kedalam persepsi dan hubungan baruf. Membantu anak memahami dunia dimana mereka hidup dan membedakan antara fantasi dan realita.3. Perkembangan sosialisasi dan morala. Mengajarkan peran orang dewasa, termasuk perilaku peran seks.b. Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan.c. Mengembangkan keterampilan sosiald. Mendorong interaksi dan perkembangan sikap positif terhadap orang lain.e. Menguatkan pola perilaku yang telah disetujui standar moral.4. Kreativitasa. Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat kreatifb. Memungkinkan fantasi dan imajinasic. Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus5. Kesadaran diria. Memudahkan perkembangan identitas dirib. Mendorong pengaturan perilaku sendiric. Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian sendiri)d. Memberikan perbandingan antara kemampuasn sendiri dan kemampuan orang lain.e. Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku sendiri dapat mempengaruhi orang lain6. Nilai Teraupetika. Memberikan pelepasan stress dan keteganganb. Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak dapat diterima dalam bentuk yang secara sosial dapat diterimac. Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan dengan cara yang aman.d. Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal tentang kebutuhan, rasa takut, dan keinginan.C. Tujuan1. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yg normalPada saat anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya.2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenyaPermainan adalah media yang sangat efektif untuk mengsekspresikan berbagai perasaan yang tidak menyenangkan.3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalahPermainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan fantasinya untuk mencipakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stresD. Prinsip-prinsip BermainMenurut Soetjiningsih bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar aktifitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif:1. Perlu ekstra energyBermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak memerlukan nutrisi yang memadai. Asupan atau intake yang kurang dapat menurunkan gairah anak. Anak yang sehat memerlukan aktifitas bermain yang bervariasi, baik bermain aktif maupun bermain pasif.2. Waktu yang cukupAnak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulus yang diberikan dapat optimal. Selain itu, anak akan mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengenal alat-alat permainannya.3. Alat permainanAlat permainan yang digunakan harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Orang tua hendaknya memperhatikan hal ini sehingga alat permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan benar dan mempunyai unsur edukatif bagi anak.4. Ruang untuk bermain Aktifitas bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, di halaman, bahkan di ruang tidur. Diperlukan suatu ruangan atau tempat khusus untuk bermain bila memungkinkan, di mana ruangan tersebut sekaligus juga dapat menjadi tempat untuk menyimpan permainannya.5. Pengetahuan cara bermainAnak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya, atau diberitahu oleh orang tuanya. Cara yang terahkir adalah yang terbaik karena anak lebih terarah dan berkembang pengetahuannya dalam menggunakan alat permainan tersebut. Orang tua yang tidak pernah mengetahui cara bermain dari alat permainan yang diberikan, umumnya membuat hubungannya dengan anak cenderung menjadi kurang hangat.6. Teman bermainDalam bermain, anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara, atau orang tuanya. Ada saat-saat tertentu di mana anak bermain sendiri agar dapat menemukan kebutuhannya sendiri. Bermain yang dilakukan bersama orang tuanya akan mengakrabkan hubungan dan sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya. Teman diperlukan untuk mengembangkan sosislisasi anak dan membantu anak dalam memahami perbedaan.E. Faktor yang Mempengaruhi Bermain1. Tahap perkembangan anaAktivitas bermain yang tepat harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua dan guru harus mengetahui dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.2. Status kesehatan anakAktivitas bermain memerlukan energi maka guru harus mengetahui kondisi anak untuk memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain pada anak TK.3. Jenis kelaminPada dasarnya dalam melakukan aktifitas bermain tidak membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan namun ada pendapat yang diyakini bahwa permainan adalah salah satu alat mengenal identitas dirinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara laki laki dan perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan.4. Lingkungan yang mendukungLingkungan yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup ruang untuk bermain.5. Alat dan jenis permainan yg cocokPilih alat bermain sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Alat permainan harus aman bagi anak.F. Alat Permainan EdukatifAlat permainan edukatif adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya. Contoh alat permainan pada anak dan perkembangan yang distimuli :1. Pertumbuhan fisik dan motorik kasarContoh : Sepeda roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll.2. Motorik halusContoh : Gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.3. Kecerdasan/ kognitif Contoh : Buku gambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil, warna, dll.4. BahasaContoh : Buku bergambar, Buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.5. Menolong diri sendiriContoh : Gelas/ piring plastic, sendok, baju, sepatu, kaos kaki, dll.6. Tingkah laku socialContoh : Alat permainan yang dapat dipakai bersama missal congklak, kotak pasir, bola, tali, dll.G. Klasifikasi Bermain1. Menurut isi permainana. Sosial affective playInti permainan ini adalah hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dengan orang lain (contoh: ciluk-baa, berbicara sambil tersenyum dan tertawa).b. Sense of pleasure playPermainan ini sifatnya memberikan kesenangan pada anak (contoh: main air dan pasir).c. Skiil playPermainan yang sifatnya meningkatkan keterampilan pada anak, khususnya motorik kasar dan halus (misal: naik sepeda, memindahkan benda).d. Dramatik Role playPada permainan ini, anak memainkan peran sebagai orang lain melalui permainanny. (misal: dokter, guru, perawat, dll).e. GamesPermainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan / skor (Contoh : ular tangga, congklak).f. Un occupied behaviorAnak tidak memainkan alat permainan tertentu, tapi situasi atau objek yang ada disekelilingnya, yang digunakan sebagai alat permainan (Contoh: jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja dsb).2. Menurut karakter sociala. Onlooker play Anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisifasi dalam permainan (Contoh: Congklak/Dakon).b. Solitary playAnak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat permainan temannya dan tidak ada kerja sama.c. Parallel playAnak menggunakan alat permaianan yang sama, tetapi antara satu anak dengan anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dengan lainya tidak ada sosialisasi. Biasanya dilakukan anak usia toddler.d. Associative playPermainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin dan tujuan permaianan tidak jelas (Contoh: bermain boneka, masak-masak).e. Cooperative playAturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, dan punya tujuan serta pemimpin (Contoh: main sepak bola).3. Menurut usiaa. Umur 1 bulan (sense of pleasure play)1) Visual : dapat melihat dgn jarak dekat2) Audio : berbicara dgn bayi3) Taktil : memeluk, menggendong4) Kinetik : naik kereta, jalan-jalanb. Umur 2-3 bulan1) Visual : memberi objek terang, membawa bayi keruang yang berbeda2) Audio : berbicara dengan bayi,menyanyi3) Taktil : membelai waktu mandi, menyisir rambutc. Umur 4-6 bulan1) Visual : meletakkan bayi didepan kaca, memebawa bayi nonton TV2) Audio : mengajar bayi berbicara, memanggil namanya, memeras kertas3) Kinetik : bantu bayi tengkurap, mendirikan bayi pada paha ortunya4) Taktil : memberikan bayi bermain aird. Umur 7-9 bulan1) Visual: memainkan kaca dan membiarkan main dengan kaca serta berbicara sendiri.2) Audio: memanggil nama anak, mngulangi kata-kata yang diucapkan seperti mama, papa.3) Taktil: membiarkan main pada air mengalir4) Kinetik: latih berdiri, merangkap, latih meloncat.e. Umur 10-12 bulan1) Visual: memperlihatkan gambar terang dalam buku2) Audio: membunyikan suara binatang tiruang, menunjukkan tubuh dan menyebutnya3) Taktil: membiarkan anak merasakan dingin dan hangat, membiarkan anak merasakan angina4) Kinetik: memberikan anak mainan besar yang dapat ditarik atau didorong, seperti sepeda atau kereta.f. Umur 2-3 tahun1) Paralel play dan sollatary play2) Anak bermain secara spontan, bebas, berhenti bila capek, koordinasi kurang (sering merusak mainan)3) Jenis mainan: boneka,alat masak,buku cerita dan buku bergambar.g. Preschool 3-5 tahun1) Associative play , dramatik play dan skill play2) Sudah dapat bermain kelompok3) Jenis mainan: roda tiga, balok besar dengan macam-macam ukuranh. Usia sekolah1) Cooperative play2) Kumpul prangko, orang lain3) Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin4) Dapat belajar dengan aturan kelompokLaki-laki : MechanicalPerempuan : Mother Rolei. Mainan untuk Usia Sekolah1) 6-8 tahun : Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk melukis, mencatat, sepeda.2) 8-12 tahun : Buku, mengumpulkan perangko, uang logam, pekerjaan tangan, kartu, olah raga bersama, sepeda, sepatu roda.j. Masa remaja1) Anak lebih dekat dengan kelompok2) Orang lain, musik,komputer, dan bermain drama.MATERI BERMAIN PLASTISINA. PengertianPlastisin adalah bahan terbaik yang digunakan untuk belajar dengan anak-anak karena plastisin dapat digunakan untuk mengajak dan untuk terapi. Kebanyakan anak-anak menemukan bahwa teksture dari plastisin itu sendiri yang menyenangkan untuk di sentuh dan di manipulasi atau dirubah. Ini amatlah mudah untuk membentuk sesuatu dengan plastisin dan merubahnya menjadi bentuk, ukuran, dan tampilan yang lain. Kebanyakan anak-anak telah siap memakai plastisin dan mereka asik dalam perasaan, memukul-mukul plastisin, menekan plastisin, melumpuri plastisin, dan memotong plastisin. Mereka memperoleh tentang pengalaman yang menyenangkan, memuaskan. Kebanyakan, plastisin hampir seperti perluasan dari anak-anak, seperti sudah menjadi bagian dari mereka.Plastisin adalah bahan tiga dimensi. Ini membolehkan anak untuk memiliki kebebasan untuk berkreativitas yang lebih daripada ketika mereka dengan dua dimensi seperti melukis atau ketika menggambar. Dengan plastisin, anak dengan bebas dapat menciptakan potongan-potongan plastisin menjadi hali yang realistis, imajinasi atau simbolik. Contohnya misal seperti, seorang anak menciptakan potongan plastisin tersebut menjadi replica monster. Potongan ini, mewakili monster, terlihat nyata, dan terlihat seperti binatang, atau dapat terlihat seperti tokoh fantasi, atau mungkin potongan itu merupakan suatu symbol yang khusus, atau bahkan mungkin hanya potongan yang dibentuk kasar.B. Keuntungan Bermain PlastisinPlastisin memungkinkan anak untuk menjadi kreatif. Selama aktivitas kreatifnya, dari dalam emosi anak memungkinkan untuk muncul dan mengalami sesuatu yang jelas dari aktivitas tersebut. Plastisin membolehkan anak untuk mengekspresikan emosinya : seorang anak mungkin dengan tenang membanting plastisin, atau dengan agresif memukul plastisin, atau menarik plastisin sehingga terpisah seperti sedang frustasi. Emosi-emosi demikian yang mana seorang anak sedang memegang plastisin, mungkin dijelaskan dari sisi terluar, dan dengan efek pencuci perut.Karena potongan plastisin ini membuat plastisin lebih mudah untuk mengubah menjadi potongan yang baru, medium ini mengajak anak untuk melanjutkan belajar mereka dengan mengembangkan tema-tema yang ada dan menjelajahi atau mengembangkan tema-tema yang baru.Belajar dengan plastisin bisa mendapatkan balasan yang khusus untuk anak-anak yang mana mereka merasakan tidak mencukupi tentang kemampuan kreativitas mereka, karena plastisin merupakan bahan yang dapat digunakan dengan kemampuan yang kecil ini memiliki kemungkinan kegagalan yang kecil. Konselor tidak memerlukan untuk membantu harapan-harapan atau peraturan-peraturan, sehingga anak dapat merasakan kebebasan untuk mengekspresikan kondisinya saat itu dengan bentuk pengalaman-pengalaman dari dalam tanpa pengendalian yang tida diperlukan.Karena plastisin merangsang indera peraba dan kinestetik, ini membolehkan anak-anak yang tertutup atau pendiam mengenai pengalaman sensorik dan emosinya dengan cara memainkan plastisin-plastisin itu lagi. Seperti anak-anak dengan menjadi digunakan sepenuhnya dalam belajar dengan plastisin, dengan sensitive bertambahnya reaksi kinestetiknya mungkin itu merupakan hasil yang bermanfaat yaitu ungkapan emosi. Konselor bias mengharapkan untuk melihat tingkah laku seperti membayangkan proses yang ada dalam diri anak-anak. Konselor membutuhkan observasi mengenai respon non verbal dan verbal dari anak-anak, dan juga merespon pada mereka dengan menggunakan sikap atau cara-cara konseling yang tepat.Manfaat plastisin secara khusus yaitu untuk menolong anak tentang apa yang dirasakan, sedikit meninggalkan mengenai yang ditahan/tertahan. Proyek ini terjadi seperti anak berperan di luar kendali emosinya. Contohnya, seorang anak dapat memukul plastisin, atau mengalus atau menggulung-gulung plastisin. Dari hal yang terjadi, konselor dapat membantu anak untuk mengenali dan merasakan perasaan yang dialami oleh anak melalui ekspresi fisiknya.Plastisin sangat bermanfaat ketika bermain dengan anak-anak dalam kelompok. Dalam kondisi berkelompok, anak-anak bisa saling mendukung untuk berinteraksi dengan yang lainnya sama seperti mereka bermain dengan plastisin dan memperoleh wawasan dan pemahaman mengenai anak-anak yang lainnya dalam kelompok, berbagi tentang pengalaman. Saling berbagi ini dapat menambah rasa individu setiap anak termasuk kelompok. Bermain plastisin dapat digunakan untuk menolong anak-anak untuk menemukan konsekuensi dari setiap tingkah laku mereka ketika dalam kelompok.Dapat disimpulkan, bahwa hal terpenting yang didapat ketika bermain dengan menggunakan plastisin dapat dimasukkan dalam daftar di bawah ini.Hal-hal yang bisa diperoleh dari bermain dengan plastisin secara individu dan dalam kelompok Membantu anak untuk menceritakan dan berbagi tentang ceritanya dengan menggunakan plastisin sebagai ilustrasi dalam ceritanya Memungkinkan anak untuk memikirkan tentang rencana yang mengandung perasaan-perasaan lewat plastisin sehingga mereka bisa merasa diakui dan memiliki Membantu anak untuk mengenali dan mengetahui hal-hal yang sedang terjadi Membantu anak untuk menyelidiki hubungan dan untuk mengembangkan wawasan ke dalam hubungan dengan orang lain Memungkinkan anak memperoleh pengalaman dan kepuasan dalam pemenuhan tugas kreativitasHal-hal yang bisa diperoleh dari bermain dengan plastisin dalam kelompok Membantu anak memperoleh wawasan dan memahami dengan yang lainnya Dapat menambah rasa individu setiap anak termasuk kelompok Membantu anak untuk menemukan konsekuensi dari tingkah laku setiap anak ketika di dalam kelompok.C. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menggambar1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.1. Membentuk plastisin disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.1. Memberikan salah satu contoh bentuk sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk.1. Jangan memaksa anak membentuk plastisin, bila anak sedang tidak ingin membentuk plastisin.D. EvaluasiPeserta terapi bermain plastisin mampu :0. Anak bisa membentuk plastisin sesuai dengan tingkat perkembangan0. Anak akan merasakan kebebasan karena dapat mengekspresikan kondisinya.0. Merasa senang,tenang terkait hospitalisasi.DAFTAR PUSTAKABasofi Mujahidin, Ahmad. 27 Nopember 2012. Satuan Acara Bermain Menggambar Pada Anak Usia 3-5 Tahun, (online), https://ahmadbasofimujahidin.wordpress.com/2012/11/27/satuan-acara-bermain-menggambar-pada-anak-usia-3-5-tahun-preschool-di-ruang-brawijaya-rsud-kanjuruhan-kepanjen/, di akses 14 September 2015Soetjiningsih, 1988,Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.Markum.A.H, 1991,Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI.Wong, Donna L. 2013. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

Recommended

View more >