UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI ...

  • Published on
    15-Dec-2016

  • View
    214

  • Download
    2

Transcript

1 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI BERMAIN BALOK DI TK LABOLATORIUM PG PAUD PALEMBANG KECAMATAN SUKARAMI Oleh : Dra. Hj. Rusnawaty Umar, M.Pd. Dra. Hj. Masitoh, M.Pd, ABSTRAC This research entitles increasing the childrens cognitive ability through playing block in TK Laboratorium PG PAUD FKIP UNSRI Sukarami Palembang. The aims of this research are the know the childrens cognitive ability in kinderganten through playing block and describing the application of childrens cognitive ability trough playing block. This action research in volued 40 students of tk srijaya (TK Laboratorium PG PAUD FKIP UNSRI). The result showed that the average results of observasion is good. Its implemention were increased. Its recomanded for the TK Laboratorium teachers to motivate themselves in teaching and add the theachers knowledge. ABSTRAK Penelitian ini berjudul Upaya Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak melalui Bermain Balok di TK Laboratorium PG PAUD Palembang Kecamatan Sukarami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan Kognitif anak taman kanak-kanak melalui bermain balok dan mendiskripsikan penerapan permainan Kognitif anak melalui bermain balok. Subjek dari penelitian ini adalah anak-anak TK Laboratorium Srijaya PG PAUD UNSRI Palembang yang berjumlah 40 orang. Hasil dari penelitian ini ditemukan hasil rata-rata observasi baik dan ada peningkatan dan disarankan kepada guru TK Laboratorium Srijaya agar dalam belajar untuk lebih memacu diri dan menambah wawasan pengetahuan guru. Kata kunci : kemampuan kognitif, metode bermain PAUD 2 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Usia dini atau prasekolah merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak-anak. Bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini, dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indera anak. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan objek-objek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara yang baru. Bermain hal yang menyenangkan bagi anak. Bermain adalah Aktifitas yang menyenangkan dan sudah melekat dalam diri setiap anak. Dengan demikian anak dapat belajar berbagai keterampilan dengan gembira, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa untuk mempelajarinya, bermain merupakan jembatan bagi anak dari belajar informal menjadi formal. Sebagai contoh, pada awalnya saat bermain balok-balok, anak mempelajari berbagai bentuk geometris, mengetahui, mengenali bentuknya, belajar konsentrasi, dan menekuni tugasnya. 1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis merumuskan masalah yang akan menjadi fokus perbaikan pembelajaran yaitu: Apakah dengan menggunakan media balok angka dapat meningkatkat kemampuan Kognitif pada anak TK Labolaturium PG PAUD KM 5 Palembang. 1.3 TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan permasalahan yang ada, tujuan peneliti ini adalah: Untuk mengetahui kemampuan Kognitif anak taman kanak-kanak Untuk mengetahui penerapan permainan Kognitif di taman kanak-kanak Labolatorium PG PAUD KM. 5 Palembang 3 Untuk mengetahui bahwa dengan penerapan Kognitif melalui media balok dapat meningkatkan kemampuan Kognitif 1.4 MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah : Manfaat Teoritis Sebagai pendorong untuk pelaksanaan pendidikan sehingga menjadi pengetahuan bagi orang tua dan guru. Sebagai informasi pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan Kognitif pada anak. Manfaat Praktis Bagi Anak Didik Membantu anak menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit.Mendorong semangat belajar anak didik terhadap belajar Kognitif Menanamkan pengertian bilangan dan kecakapan dasar Kognitif Memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kritis dalam memecahkan masalah yang dihadapi dikehidupan sehari-hari baik sekarang dan masa mendatang. Bagi Guru Memudahkan guru untuk melatih keterampilan dan kesabaran dalam mengerjakan pengembangan Kognitif Guru dapat menerapkan pengembangan Kognitif dengan menggunakan bermain bola angka. Mengbangkitkan kreativitas guru dalam menerapkan dan menciptakan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Kemampuan Pengertian kemampuan menurut Yusdi (2010:10) kemampuan adalah bersikap, berfikir, dan berindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan sikap dan keterampilan yang dimiliki. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Wortham (2008:50) kemampuan sebagai keterampilan atau kemampuan sebagai keterampilan kesanggupan dalm bidang tertentu. Hakikat Kognitif 4 Pengertian Kognitif Anak usia TK adalah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan kognitif di jalur matematika, karena usia TK sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan. Contohnya : ketika guru menjelaskan konsep satu dengan menggunakan benda (satu buah apel), anak-anak dapat menyebutkan benda lain yang memiliki konsep sama, sekaligus mengenalkan lambing dari angka satu itu. Hakikat Bermain Pengertian Bermain Bermain menurut Mulyadi (2004:13), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain yaitu: Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsic pada anak Tidak memiliki tujuan eksterinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsic. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsure keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak Melibatkan peran aktif keikut sertaan anak Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya. Menurut Singer (dalam Kusantanti, 2004:12) mengemukakan bahwa bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya mengembangkan kreativitas anak. Dengan bermainanak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian Dalam penelitian ini, metode yang di pergunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas tehadap variabel terkait setelah ditetapkan pembelajaran dengan menggunakan media balok Coisenaire terhadap kemampuan berhitung anak taman kanak-kanak. Dalam bidang penelitian, khususnya 5 dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan berkembang menjadi peneliti tandakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research. Tempat dan waktu penelitian Tempat penelitian Penelitian ini dilakukan penulis di taman kanak-kanak laboratorium tumbuh kembang PG PAUD FKIP UNSRI yang berlokasi di KM.5 Kecamatan sukarami Palembang. Waktu penelitian Adapun penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014 Subjek penelitian Subjek penelitian ini adalah anak taman kanak-kanak laboratorium sriwijaya KM.5. taman kanak-kanak sriwijaya adalah taman kanak-kanak laboratorium PG PAUD FKIP UNSRI Palembang, yang berjumlah 40 orang yang terdiri dari 20 orang anak perempuan dan 20 orang anak laki-laki. Fokus penelitian Fokus penelitian adalah permainan balok untuk meningkatkan kognitif dengan menggunakan media balok. Perencanaan tindakan Pada kegiatan perencanaan tindakan ini peneliti merencanakan dan menyusun seperangkat pembelajaran untuk meningkatkan pengembangan kognitif anak TK Srijaya, antara lain merancang dan menyusun silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, juga menyusun bahan ajaran lks, media dan penilaian untuk lebih terarah pada pelaksanaan tindakan. Pelaksaan tindakan Pada kegiatan pelaksaan tindakan tim peneliti melaksanakan kegiatan di dalam kelas sesuai dengan perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang sudah disiapkan. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan pendahuluan dimana tim peneliti mengatur tempat duduk anak dan memberi salam serta berdoa untuk siap mengikuti pembelajaran dan melanjutkan kegiatan mengabsen kehadiran siswa dan memberikan kegiatan appersepsi tentang diri sendiri dengan menyanyikan lagu 6 dua mata saya. Serta diikuti dengan pemberian motivasi dengan mengajukan pertanyaan pertanyaan lagu apa yang kita nyanyikan tadi, anak akan menjawab lagu diriku atau diri sendiri. Setelah itu peneliti melanjutkan kegiatan yaitu menuliskan tema di papan tulis yaitu tema diri sendiri.dan pada akhir kegiatan pendahuluan peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran untuk tema diri sendiri. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi pelaksanaan meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui bermain balok Penelitian ini dilaksanankan pada bulan September tahun 2013 di TK Laboratorium srijaya. Sebelum penelitian ini dilaksanakan diawali dengan kegiatan observasi lapangan, menyiapkan media, persiapan silabus, dan persiapan perencanaan. Untuk mendapatkan data kognitif tim peneliti melaksankan pembelajaran PAUD di TK Laboratorium srijaya. Tumbuh kembang PG PAUD FKIP UNSRI, mulai jam 08.00 10.00 wib, dari hasil kegiatan tersebut di temukan hasil penelitian pengembangan kognitif pada anak usia dini dalam hal ini peneliti menggunakan format observasi. 4.2 Deskripsi data hasil belajar Data hasil belajar ini diperoleh melalui observasi anak-anak TK Laboratorium srijaya yang diberikan tugas untuk menyusun balok sesuai dengan ukurunnya, memilih bentuk-bentuk balok, memilih balok sesuai dengan warnanya, dan dapat menyusun balok menjadi suatu bentuk bangunan. Berikut ini adalah tabel data nilai rata-rata observasi sebelum diberikan bimbingan lebih lanjut. Tabel 4.1. Data hasil observasi memilih balok sesuai dengan ukurannya. Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 35 45 3 7.5 46 1 2.5 7 55 56 65 17 42.5 66 75 15 37.5 76 85 2 5 86 95 2 5 jumlah 40 100 Dilihat dari tabel 4.1 data pretes hasil observasi anak TK Laboratorium Srijaya sebelum diberikan bimbingan terdapat 3 anak yang mendapatkan hasil belajar 7.5 % nilai antara (35 45) katagori kurang baik dari 40 anak. Dan yang memperoleh hasil belajar pretesnya antara (46-55) katagori kurang baik juga sebanyak 2.5 %. Sedangkan yang memperoleh nilai hasil belajar pretes katagori cukup baik (56-65) ada 17 orang atau 42,5 % dari 40 anak. Juga sebanyak 15 anak (37.5 %) yang mendapat nilai pretes cukup baik juga antara (66-75). Sedangkan yang mendapat hasil pretes baik (86-95) ada 2 anak atau sebanyak 5%. Tabel 4.2. Data hasil observasi memilih bentuk balok Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 50 60 2 5 61 70 12 30 71 80 15 37.5 81 90 10 25 91 - 100 1 2.5 jumlah 40 100 Dari hasil tabel diatas dapat dilihat ada 2 orang anak yang mendapat hasil belajar sebanyak 5% antara nilai (50 60 ) dengan katagori cukup baik dari 40 anak. Dan yang memperoleh hasil belajar sebanyak 30% sebanyak 12 anak, sedangkan yang memperoleh hasil belajar sebanyak 37.5 % atau 15 orang anak dengan nilai antara (71-80). Juga sebanyak 10 orang anak 8 yang memperoleh hasil nilai belajar dengan katagori baik atau sebanyak 25% dengan katagori nilai antara (81 90). Sedangkan yang mendapat nilai sangat baik dengan katagori nilai antara (91 100) sebanyak 1 orang anak atau sebanyak 2.5%. Tabel 4.3. Data hasil observasi memilih warna balok Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 60 70 7 17.5 71 80 14 35 81 90 18 45 91 - 100 1 2.5 jumlah 40 100 Data diatas menunjukkan hasil belajar anak yang mendapat nilai cukup baik dengan katagori nilai antara (60 70) sebanyak 7 orang anak. Dan sebanyak 14 orang anak mendapatkan hasil belajar dengan baik atau sebanyak 35% dengan katagori nilai antara ( 71 80). Sedangkan yang memperoleh hasil belajar dengan pretes baik sebanyak 18 orang anak atau sebanyak 45% dengan katagori nilai (81 90). Juga sebanyak 1 orang anak memperoleh nilai antara ( 91 100) atau sebanyak 2.5% dengan hasil yang sangat baik. Tabel 4.4. Data hasil observasi membentuk balok menjadi suatu bentuk bangunan Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 65 75 22 55 75 85 17 42.5 86 95 1 2.5 jumlah 40 100 Tabel 4.4. diatas menunjukan ada 22 orang anak yang memperoleh nilai yang cukup baik dengan 9 katagori nilai antara (65 75) atau sebanyak 55%. Dan yang memperoleh hasil belajar pretesnya antara katagori baik (75 85) sebanyak 42.5% atau 17 orang anak. Sedangkan yang memperoleh nilai dengan sangat baik sebanyak 1 orang atau sebanyk 2.5% saja. Karena nilai anak masih ada yang berkatagori cukup dan hasil observasi masih perlu ditingkatkan supaya hasil observasi secara menyeluruh mendapatkan nilai yang baik. Berikut ini tabel data nilai rata-rata setelah anak-anak diberikan bimbingan melalui tes ke 2. Tabel 4.5. Data hasil observasi memilih ukuran balok Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 60 70 2 5 71 80 9 22.5 81 90 15 37.5 91 - 100 14 35 jumlah 40 100 Dilihat dari tabel diatas pretes hasil observasi anak TK Laboratorium srijaya setelah diberikan bimbingan terdapat 2 orang anak yang mendapat hasil belajar sebanyak 5% antara (60 70) katagori cukup baik dari 40 orang anak. Dan yang memperoleh hasil pretesnya dengan katagori baik antara (71 80) sebanyak 22.5% atau sebanyak 9 orang anak. Sedangkan yang memperoleh nilai hasil pretes dengan katagori sangat baik ada 15 orang anak (37.5%) dari 40 anak. Juga sebanyak 14 orang anak atau sebanyak 35% yang mendapat nilai pretes katagori sangat baik (91 100). Tabel 4.6. Data hasil observasi memilih bentuk balok Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 80 85 8 20 10 86 90 9 22.5 91 95 11 27.5 96 - 100 12 30 jumlah 40 100 Data hasil dari tabel 4.6. setelah anak-anak diberikan bimbingan diperoleh sebanyak 20% yang mendapat hasil belajar dengan katagori baik atau sebanyak 8 anak dengan nilai antara (80 85). Dan yang memperoleh hasil belajar pretesnya antara katagori sangat baik (86 90) ada 9 orang anak atau 22.5% dari 40 orang anak. Juga ada 11 orang anak yang memperoleh hasil pretesnya sangat baik (91 96) atau 27.5% dan ada 30 % yang hasil pretesnya juga sangat baik dengan katagori nilai antara ( 96- 100) atau sebanyak 12 orang anak. Tabel 4.7. Data hasil observasi memilih balok sesuai dengan warnanya Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 80 85 4 10 86 90 3 7.5 91 95 4 10 96 - 100 29 72.5 jumlah 40 100 Tabel di atas menunjukkan ada 4 orang anak yang mendapat hasil pretes dengan katagori baik dengan nilai antara ( 80 85) atau sebanyak 10 %. Dan sebanyak 7,5 % atau 3 orang anak memperoleh hasil belajar dengan katagori sangat baik dengan nilai antara (86 90). Sebanyak 10% memperoleh hasil pretesnya antara katagori sangat baik juga dengan nilai antara (91 95) atau terdapat 4 orang anak. Sedangkan yang memperoleh nilai antara (96 100) dengan katagori sangat baik juga cukup banyak ada 29 orang anak atau sebanyak 72.5%. 11 Tabel 4.8. Data hasil observasi membentuk balok menjadi suatu bentuk bangunan Nilai ujian Frekuensi obsolut Frekuensi relatif (%) 70 80 6 15 81 90 9 22.5 91 100 25 62.5 jumlah 40 100 Data hasil tabel di atas ada 6 orang anak yang memperoleh hasil belajar sebanyak 15% dengan nilai antara (70 80). Dan yang memperoleh hasil belajar dengan katagori sangat baik ada sebanyak 22.5 % atau sebanyak 9 orang anak dari 40 anak. Juga sebanyak 25 orang anak atau 62,5% yang mendapat nilai katagori sangat baik juga (91 100). 4.3 Pembahasan Dari hasil observasi pada tabel 4.1, tabel 4.2, tabel 4.3, dan tabel 4.4, diatas terlahat bahwa hasil rata-rata yang dinilai sebelum anak TK laboratorium srijaya mendapatkan bimbingan dari guru / tim peneliti cukup baik. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya disain pembelajaran ( Hamzah Uno 2008). Seperti yang dikatakan Nana Sujana (2004 : 20) bahwa kemampuan dalam merencanakan program belajar mengajar merupakan muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pengajaran, artinya memberi makna pada perencanaan / program belajar mengajar adalah suatu perkiraan guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selam pengajaran berlangsung. Selain itu, bertujuan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan praktek mengajarnya, yaitu bagaimana guru merumuskan tujuan pembelajarannya, apakah sesuai dengan karakteristik anak, sesuaikan dengan pengorganisasian 12 materinya, juga sumber dean media pembelajaran.Hasibuan dan Moedjiono (2008 : 39) oleh Corners berpendapat bahwa mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks, Corners juga mengidentifikasikan tugas mengajar guru menjadi taga tahap yang sifatnya suksesif, tahap tersebut adalah tahap sebelum pembelajaran (inter preactive) dan tahap pengajaran ( inter active) dan tahap sesudah pengajaran ( post active). Untuk hasil rata-rata observasi pada tabel 4.5, tabel 4.6, tabel 4.7, dan tabel 4.8, hampir seluruh anak mendapatkan nilai yang sangat baik, setelah anak- anak mendapatkan bimbingan dari guru / tim peneliti cara memilih ukuran balok, memilih bentuk balok, memilih warna balok dan cara menyusun balok menjadi suatu bentuk bangunan. Kemampuan menguasai bahan pembelajaran sebagai bagian intergal dari proses belajar mengajar, seperti yang dikemukakan oleh peters yang dikutip oleh nana sujadna (2004:22) proses dan hasil belajar siswa bergantung pada penguasaan mata pembelajaran guru dan keterampilan mengajarnya. Pendapat ini diperkuat oleh Hilda Toba, bahwa keefektifan pengajaran dipengaruhi oleh (a). Karakteristik guru dan siswa (b). Bahan pelajaran (c). Aspek yang berkenaan dengan situasi pembelajaran. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan pelaksanakan pembelajaran di TK Laboratorium srijaya dalam upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui bermain balok di TK Laboratorium PG PAUD Palembang Kecamatan Sukarami,selama proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan memperoleh hasil belajar yang meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa tentang penerapan pelaksanaan pembelajaran PAUD menggunakan strategi bermain mendapat kriteria baik dan dapat meningkatkan motivasi belajar pada siswa lebih meningkat. 13 Berdasarkan kesimpulan diatas tim peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1. Anak-anak TK Laboratorium srijaya, agar dalam belajar untuk lebih memacu dirinya dan menambah wawasan pengetahuannya. 2. Guru , diharapkan dapat menerapkan keberhasilan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya. 3. Bagi Program Studi PG PAUD , penelitian ini dapat dijadikan referensi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan program studi. DAFTAR PUSTAKA Djaman Satori. 2008. Materi pokok profesi keguruan pengembangan Desain instruksional. Jakarta : Universitas Terbuka. Djamaras. SB. 2000. Guru dan Anak didik dalam interaksi Edukatif. Jakarta : PT Rineka Cipta. Djumiran.2009. Profesi Keguruan. Departemen Pendidikan Nasional. Dr. Rusman.2010. Model-model Pembelajaran mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Elii, Rosalim.2008 Bagaimana Menjadi Guru Inspirtaif. Bandung : PT. Karsa Mandiri Persada. Halimah, D.K.2008. Seluk Beluk Profesi Guru. Bandung : PT. Pribumi Mekar. Imam, wahyudi. 2012. Mengajar Profesionalisme Guru Prestasi. Jakarta : Pustaka raya. Kusmayadi.2010.Kemahiran Interpersonal Untuk Guru. Bandung : PT Peribumi Mekar. Oemar, Hamalik. 2009. Perencanaan Pengajaran berdasarkan Pendekatan Sistem. Suprihatiningrum. 2013. Guru Profesional. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media. Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerinta RI No 74 Tahun 2008. Tentang Guru dan dosen. 14 Wardani, ibak. 2005. Dasar-dasar Komunikasi dan Keterampilan Dasar Mengajar. PAUD PPAL.